“Masjid di Hati Setiap Insan – Dari Masjid Membangun Ummat”

“Dana Ummat Jadi Pilar Utama Untuk Menopang Perekonomian dan Kesejahteraan Ummat”
  • Home
  • Berita
  • Kiprah Anak Kampung Menjadi Pengusaha Pertukangan Kayu

Dari Sosa ke Medan

Kiprah Anak Kampung Menjadi Pengusaha Pertukangan Kayu

Eddy H Tambunan Senin, 01 Juni 2020 01:02 WIB
Eddy H Tambunan

Sanding Lubis dan istri

GELONDONGAN kayu itu mulai diracik dengan cara dipotong memakai mesin pemotong kayu (wood cutting) atau sebahagian lagi dengan cara manual memakai mesin chainsaw, lalu dihasilkan bahan baku kayu setengah jadi berupa broti dan papan. Inilah yang dahulu pernah dikerjakan Almarhum Bapak H Tengku Imam Lubis dan Hajja Gorga Lubis. Mereka merupakan pasangan suami istri pengusaha kayu gelondongan dari kecamatan Sosa, kabupaten Padang Lawas (Palas), Sumatera Utara. Keduanya adalah orangtua kandung dari Sanding Lubis.

Mengikuti bakat mengolah kayu dari orangtuanya, Sanding Lubis yang jebolan Pesantren Musthafawiyah Purba Baru tahun 1987 itu, kini membuka usaha pertukangan kayu di jalan Karya Jaya, No. 191, Medan Johor dengan nama "Karya Sanjaya". Menerima tempahan pembuatan dan penjualan keping daun pintu serta jendela, juga kusen. Usaha serupa kini juga dibukanya di kawasan jalan Marindal I, Kelurahan Marendal I, Pasar 4, Dusun VII, kecamatan Patumbak, kabupaten Deliserdang.


Pasang surut dalam berusaha sudah dirasakan oleh Sanding Lubis. Menurutnya hal itu lumrah saja. Langkah selanjutnya, Ia selalu menganggap bahwa apa pun yang terjadi pada dirinya, selalu dijadikan pelajaran. "Di balik peristiwa, terutama musibah atau kerugian serta kegagalan itu, pasti ada hikmahnya," katanya.

Pertarungan Hidup

Kisah Sanding Lubis tak bisa dilepaskan dari kisah dirinya memilih tujuan perantauan atau hijrah ke kota Medan. Saat itu tahun 1995. Lelaki kampung yang lugu ini memberanikan diri meninggalkan tanah kelahirannya di Sosa, Tapanuli Selatan (yang setelah mekar hingga kini menjadi kabupaten Padang Lawas). Tak hanya sendiri, ia nekat membawa serta keluarganya.

Tujuannya "mengubah status sosial" yang kurang beruntung menjadi yang lebih beruntung. Ia ingin sukses di perantauan. Padahal saat itu semua serba terbatas. Ia tak punya modal cukup, baik modal usaha, keahlian menejerial (skill), terlebih pengalaman. "Modal Saya waktu itu, hanya keyakinan disertai Do'a kepada Sang Kholik, Allah Subhanahuwata'ala. Kalau Ijazah hanya punya Ijazah Aliyah setingkat SMA," jelasnya.

Kemandirian yang tertempah selama tujuh tahun di Madrasah Musthafawiyah Purba Baru, membuatnya lebih percaya diri. Ia selalu melibatkan Allah Subhanahuwata'ala dalam setiap urusannya.

Diboyongnya Mawar Pasaribu, istri tercinta menuju Medan. Berikut sepasang anak mereka (laki-laki dan perempuan) yang masih kecil. Beruntung Ia memiliki Mawar sebagai pendamping hidup yang berpendidikan Agama seperti dirinya. Sehingga saling mengerti dan selalu mendukung, hingga akhirnya mereka sampai di kota Metropolitan.

Awal awal, tak banyak yang bisa Ia lakukan. Demi memenuhi kebutuhan hidup sehari hari, Sanding mulai kerja serabutan, istilah anak Medan, "mocok-mocok". "Yang penting halal," jelasnya lagi.

Selang beberapa waktu, pada tahun 1997 Sanding dapat pekerjaan sebagai seorang supir pada perusahaan distributor utama dari produksi Korea dengan merk produk Yongma. Menurutnya perusahaan ini dipimpin atau dimiliki oleh pengusaha keturunan Thionghoa.

Sebagai supir, Ia ditugasi membawa karyawan (team sales) perusahaan berkeliling untuk memasarkan produk bermerk Yongma berupa alat kesehatan dan olahraga. Bahkan rute perjalanan hingga ke luar kota Medan dengan metode dagang sales canvassing (melakukan kunjungan langsung ke target prospek untuk melakukan penjualan). Terkadang hingga ke wilayah provinsi Riau.

"Basic pendidikan Saya memang agama. Begitu juga dengan orangtua yang mendidik saya sejak kecil. Bahkan ayah Saya tingkat pemahaman agamanya cukup tinggi, namun Ia bisa menjadi pengusaha kayu gelondongan. Itu yang memotivasi Saya, dan hati kecil Saya berkata: 'Kamu juga bisa'."

Dalam setiap bekerja, Ia selalu menginat petuah orangtuanya: "Di manapun kita bekerja harus jujur."

Maka berkat doa dan kejujuran yang selalu dipertahankannya dalam bekerja. Menjadi supir hanya dalam waktu enam bulan saja. "Keberuntungan itu selalu berpihak kepada Saya. Status saya yang tadinya supir berubah menjadi seorang marketing atau seorang sales."

"Waktu itu masih Siang. Bapak Atan, pemilik perusahaan menelepon. Beliau meminta saya datang menemuinya. Kami pun ketemu. Dalam pertemuan itu, Ia menyuruh Saya tak usah lagi jadi supir, tapi jadi sales saja. 'Pak Lubis..! mulai besok Anda jangan supir lagi ya, Saya lihat Pak Lubis tidak ada besicnya jadi supir, Bapak adalah orang bisnis dan cocok jadi pengusaha' begitu kata Pak Atan."

Pucuk dicinta ulampun tiba, memang ini yang diinginkan Sanding. Dari 34 orang karyawan yang berada di bagian penjualan atau team sales, hanya dirinya yang bukan Thionghoa. Debutnya di perusahaan ini pun berjalan cukup lama, tujuh tahun. Terakhir perusahaan itu berkantor di komplek Asia Mega Mas, Medan.

Dibohongi Sales

Berubahnya status Sanding dari supir menjadi sales, ternyata tak terjadi begitu saja. Hal ini berawal dari satu kejadian saat Ia masih sebagai supir. Ketika itu Ia membawa dua orang sales Pak Atan berketurunan Thionghoa dari Jakarta untuk canvassing ke luar kota, hingga ke kota Pekanbaru. Namun proses canvassing sudah berjalan satu minggu dan biaya operasional sudah habis, tapi satu unit pun tidak closing penjualan atau tidak terjadi penjualan. "Hasilnya nol, atau istilah kami pada waktu itu zero." kata Sanding.

"Bingung, kemudian kedua sales yang saya bawa berkata kepada saya: 'Pak Lubis kami minta tolong, ini bahan bakar mobil kita sudah sedikit lagi, uang sudah habis. Silahkan bawa mobil ini, terserah Pak Lubis mau bawa kemana mobil ini agar ada penjualan. Dan nanti setiap ada barang yang laku Bapak dapat komisi Rp.5.000,-/pices' begitu kata mereka," jelas Sanding bercerita.

Alhamdulillah...! Ketika perjalanan sampai di kawasan Labuhanbatu, persisnya di Kota Pinang (saat ini ibukota kabupaten Labuhanbatu Selatan), mereka bertemu dengan salah seorang bapak bermarga nasution. "Ternyata bapak tersebut Dirut PTPN 5 Pekanbaru, dan kala itu beliau belanja produk kami senilai Rp.500 ribu. Bahkan melalui beliau juga saya dibantu dapat masuk melakukan penjualan ke 70 Afdeling di bawah naungan PTPN 5."

"Setelah ada penjualan dari Bapak Nasution itu, Kami sudah mendapatkan modal operasional. Lalu melanjutkan perjalanan canvassing menuju kota Pekanbaru, hingga seluruh barang yang kami bawa sejumlah 600 pices habis terjual."

Tingginya tingkat penjualan ini, menjadi pertanyaan di kantor, meski para sales yang dibantu Sanding ternyata tak jujur. Terlebih komisi yang dijanjikan oleh kedua sales tersebut ternyata bohong, dan tak pernah diterimanya.

Ia benar-benar dibohongi oleh kedua sales tersebut, hingga ke depannya ketika diajak untuk membawa kedua sales itu, Sanding selalu mengelak. Hal ini, mungkin tercium oleh pihak kantor, terlebih ketika tidak pergi canvassing bersama Sanding, persentase penjualan kedua sales yang berbohong tentang komisi itu, selalu menurun.

"Mungkin inilah yang menjadi faktor utama Saya dipanggil oleh Bos utama, Pak Atan. Lalu diangkat sebagai salah satu team sales. Tapi sayang, enam bulan setelah Saya jadi sales, kondisi ekonomi negara mengalami moneter dan berimbas ke perusahaan tempat Saya bekerja, akhirnya tutup."

Mengikuti Jejak Bisnis Orangtua


Berganti profesi dan usaha, akhirnya Sanding memiliki sedikit modal untuk membuka usaha sendiri. Berawal dari pertemuannya dengan orang kaya dari kota Pekanbaru yang kebetulan memiliki kebun yang luas. Saat itu, jika datang ke Medan si orang kaya ini selalu pesan pupuk ke Sanding, minimal satu truck. Pemesanan pupuk ini berlanjut terus. Hingga satu masa, pupuk yang dipesan harus diantar langsung ke pedalaman, ke lokasi perkebunan orang kaya tadi.

"Tidak diduga, ternyata di banyak lokasi kebun Bapak tersebut yang Saya datangi, banyak terdapat jenis kayu-kayuan. Tapi Saya dapat kabar bahwa beliau sendiri tidak tau cara mengolah dan menjualnya."

Cerita itu Ia dapat dari supir si Bapak yang kaya tersebut. Malah si supir pernah nanya ke Sanding, apakah dirinya ingin membelinya...? "Saya katakan ke supir Bapak itu, Saya tidak punya modal untuk membeli kayu tersebut. Namun kata si supir semua bisa diatur."

Atas komunikasi yang baik, akhirnya terjadi transaksi atas dasar kepercayaan. Ia diberi kepercayaan menjualkan kayu-kayu pak Haji tersebut (si orang kaya) dengan mendapatkan komisi. "Saat itu rata-rata perminggu transaksi sebesar Rp 100 juta. Dan hubungan kerjasama ini berselang hingga lebih dari tiga tahun. Menariknnya, setelah tiga tahun, saya baru bertemu dan kenal dengan pak Haji ini. Sebab selama ini hanya ketemu dengan supirnya."

Waktu terus bergulir, seperti sang matahari yang selalu berotasi pada sumbunya. Berselang beberapa tahun kemudian, Sanding kedatangan seorang tamu dari kampungnya di Sosa. Tamu itu menawarkan kayu padanya. Tidak berlama lama, Ia pun langsung menyetujui untuk membeli kayu tersebut. Modal membelinya dari uang hasil kerjasama jual beli kayu dengan Pak Haji yang di Pekanbaru.


"Kayu yang Saya beli dari daerah Sosa ini, Saya jual dan pasarkan ke toko-toko mebel dan pertukangan kayu serta panglong-panglong. Saat itu Saya sudah mempunyai toko langganan dan panglong langganan sebanyak 30 sampai 40 tempat. Dan dengan ada sedikit modal ini, saya mulai membuka usaha/toko pertukangan kayu yang menerima tempahan pembuatan dan penjualan pintu, jendela dan kusen. Semua dari bahan kayu yang berkualitas, seperti kayu Meranti, Damar, Merbo dan ada juga kayu Cengal dan kayu Sembarang."

"Di tahun 2009 toko dan pertukangan kayu pertama yang Saya buka berada di jalan Sunggal. Dan setelah satu tahun kemudian berkembang, saya buka lagi di jalan Karya Jaya simpang jalan Eka Rasmi. Jadi dua toko Saya. Satu tahun buka, yang di simpang Eka Rasmi saya tutup. Lalu pada tahun 2012 saya buka di sini, jalan Karya Jaya dan saya pasang merek KARYA SANJAYA. Setelah tingkat penjualan di Sunggal mulai sepi, yang di Sunggal pun saya tutup. Kemudian saya buka lagi sebagai gantinya di daerah Marindal sampai sekarang. Bahan baku kayu saat ini saya datangkan dan beli dari Langsa, Aceh Timur."

"Alhamdulillah usaha ini tetap berjalan hingga kini. Kondisi maraknya wabah covid 19 ini, memang tingkat income sangat menurun hanya Rp 50 juta sebulan. Hal ini bila dibandingkan dengan dua tahun yang lalu, rata-rata income mencapai Rp 200 juta perbulan. Namun semua ini saya tetap terima dengan lapang dada dan iklas. Saya tetap mensyukuri apa yang Allah berikan pada Saya, dan kini saya mengikuti jejak bisnis orantua Saya," pungkas Pak Sanding Lubis sembari mengembangkan senyum pada penulis.

Dengan kondisi pesanan agak sepi saat ini, tidak akan mempengaruhi harga jual kepada pelanggan yang baru atau yang lama, seperti harga dibawah ini:

A.HARGA DAUN PINTU :
1(satu ) Keping Daun Pintu Kayu Meranti Biasa :Rp. 800.000,-
1(satu ) Keping Daun Pintu Kayu Meranti Batu :Rp. 1.100.000,-
1(satu ) Keping Daun Pintu Kayu Merbo: Rp. 1.700.000,-
1(satu ) Keping Daun Pintu Kayu Damar Petak Tahu : Rp. 2.500.000,-

B.HARGA KUSEN :
1(satu ) Kusen Kayu Damar Standar :Rp.400.000,-
1(satu ) Kusen Kayu Meranti : Rp.250.000,-
1(satu ) kusen Kayu Cenggal : Rp.300.000,-


Di sini penulis melihat dengan jelas, sangatlah baik tingkat ketakwaan Sanding kepada Allah SWT, beliau tidak menunjukkan kegundahan apalagi kekhawatiran sedikitpun dalam mengharungi kehidupan ini. Bahkan dalam situasi dan kondisi saat ini. Sepenuhnya Sanding telah menyerahkan hidup dan matinya serta keluarga kepada Allah Subhanahuwata'ala. (EDDY.H.TAMBUNAN)
Editor: Aziz AR Panjaitan

Sumber: Hasil Liputan

T#gs
Berita Terkait
FB Comments