“Masjid di Hati Setiap Insan – Dari Masjid Membangun Ummat”

“Dana Ummat Jadi Pilar Utama Untuk Menopang Perekonomian dan Kesejahteraan Ummat”
  • Home
  • Berita
  • Petualang Bisnis Yang Sukses di Eco Racing

Santri Musthafawiyah Itu

Petualang Bisnis Yang Sukses di Eco Racing

Eddy H Tambunan Jumat, 12 Juni 2020 09:37 WIB
Eddy H Tambunan

Edy Sutan Hasibuan dan keluarga

Setelah ngalor ngidul di dunia usaha, dari menjadi pekerja hingga berwiraswasta, Edy Sutan Hasibuan kini kepincut bisnis yang digerakkan oleh PT Bandung Eco Sinsergi Teknologi (BEST). Sebuah bisnis di bidang perdagangan langsung berjenjang, bermoto "go berkah no riba".



MENGETAHUI lebih dekat dan melancarkan gerakan silaturrakhim, Selasa 9 Juni 2020, sekira Pukul 10.15 WIB, penulis menemui Edy Sutan Hasibuan di kediamannya. Bertempat di Komplek Perumahan Citra Mandiri Blok-E, Nomor 14. Masih pada bilangan Jalan Karya Jaya Ujung/ Jalan Besar Namorambe, kecamatan Namorambe, kabupaten Deliserdang.


Alhamdulillah, si Abang Sutan rupanya sudah menunggu. Setelah melakukan sapa dan salam, kami pun ngobrol di ruang tamu, dengan suguhan teh hangat. Sembari mempersilahkan "minum" ia pun mulai bercerita. Tentang bagaimana dirinya di kampung halaman.


Pria yang merupakan anak pertama dari pasangan suami istri Abdul Wahab Hasibuan dan Rabiatul Adawiyah Nasution ini, ternyata putra Panyabungan, yang dahulu sebagai salah satu kecamatan di kabupaten Tapanuli Selatan, dan kini menjadi ibukota kabupaten baru, Mandailing Natal (Madina).


Ayahnya seorang guru SD di kampungnya. Sebelum di Panyabungan sejak 1975, ayahnya bertempat tinggal di kecamatan Sibuhuan, Tapanuli Selatan, yang kini menjadi ibukota dari kabupaten Padang Lawas (Palas).


Edy Sutan sendiri, lahir di Penyabungan, 12 Agustus 1980, bersama 6 saudara kandungnya, mereka tujuh orang se Ayah Seibu dengan dua laki-laki dan lima perempuan.


Setamat dari Sekolah Dasar, Edy Sutan mengenyam pendidikan Tsanawiyah dan Aliyah di Pondok Pesantren Musthafawiyah Purba Baru besutan Almarhum Al 'Allimul 'Allamah Assyech Musthafa Husein yang didirikan sejak 1912. Pesantren ini juga dikenal dengan sebutan Pesantren Purba Baru, berlokasi lebih kurang 18,7 kilometer atau sekira perjalanan 37 menit dari tempat tinggal Edy Sutan di Panyabungan.


Setelah nyantri tujuh tahun di pesantren ini, ia melanjutkan kuliah ke Universitas Sumatera Utara (USU) di kota Medan. Tepatnya pada Fakultas Politeknik dan menyandang gelar ST (Sarjana Tekhnik).


Berjodoh, ia menikah dengan gadis yang berdisiplin ilmu yang sama, S-1 Politeknik USU Medan, namanya Suri Helvita. "Alhamdulillah kami berjodoh dan kini sudah dikaruniai dua orang anak. Satu laki-laki bernama Muhammad Al Farisi Hasibuan saat ini Kelas 1 SMP Islamic Center dan yang kedua perempuan bernama Fairus Anista Boru Hasibuan masih Kelas 6 Sekolah Dasar," kata pria berusia 40 tahun yang terlihat energik dan ramah itu.


Dahulunya istrinya yang masih Pujakesuma (Putri Jawa Kelahiran Sumatera) atau kota Medan ini, sempat bekerja di Bank Niaga selama 10 tahun, dan tiga tahun di BTPN. "Kini istri berwiraswasta dan menjadi ibu rumah tangga," jelasnya.




Karir dan Usaha


Tamat Kuliah, tahun 2004 langsung ia melamar kerja di Dealer Mobil merek Hyudai dan diterima sebagai seorang sales bergaji Rp 575 ribu. Tapi hanya satu tahun, lalu pindah ke Sumatera Berlian Motor dengan gaji Rp 1 juta, kemudian pindah lagi di pabrik tissu dengan gaji Rp 2 juta. "Maklum, kita pindah-pindah untuk mendapatkan gaji lebih tinggi demi kepentingan mencukupi kebutuhan rumah tangga," katanya.


Meski sudah bergaji lumayan di pabrik tissu, tapi menurutnya job kerja di lapangan sangat susah. Sebab harus mendatangi hotel- hotel dan restoran. "Hal ini saya anggap sangat berat."


Kondisi yang mendesak, pertolongan Allah pun datang, tawaran dari operator telepon seluler TRI cukup menjanjikan. "Alhamdulillah di sini saya mendapatkan full pasilitas, kenderaan dan rumah tinggal serta gaji Rp 4 juta. Wilayah area kerja saya mulai dari Kisaran, Tanjungbalai hingga Aekkanopan. Hanya problemnya saya harus jauh dari keluarga. Di sini saya bekerja tak lama, sebab tak tahan berjauhan dengan keluarga."


Tahun 2007 Edy Sutan melamar ke Bank Mega Syariah, dan bekerja hingga tahun 2009. Jabatan terakhirnya Manager di Bank Mega Syariah pada bagian Micro, dan berkantor di daerah pertokoan Tomang Elok, dengan gaji yang sangat lumayan.


"Tetapi..! Lama-lama jiwa ini tidak bisa dibohongi, berontak juga. Saat itu, keinginan untuk buka usaha semakin besar. Sebab dalam benak saya, apapun ceritanya saya kerja sama orang, walaupun saya punya jabatan dan gaji besar, tetap saja anak buah orang dan di bawah perintah orang serta makan gaji. Kerja di bank ini hanya menang gaya semata, penghasilan sangat terukur," katanya lagi.


Akhirnya Edy Sutan memutuskan keluar dari bank. Namun ia ditentang dan dimarahi orangtua. "Karena dari kampung kami, saya orang yang pertama bisa kuliah di USU dan bekerja di Bank sampai punya jabatan sebagai Kepala Cabang. Status dan prestasi saya ini jadi kebanggaan orang tua saya di kampung."


Namun desakan dan dorongan untuk berusaha tek terbendung. Akhirnya pada tahun 2009 keluar dari Bank dan mulai membuka usaha dengan menyewa satu unit toko di persimpangan jalan Mukhtar Basri dan jalan Alfalah (di dekat kampus UMSU).


Diawali ucapan Bismilah, Edy pun memulai hidup barunya sebagai pedagang, berjualan ponsel. Hasilnya, Alhamdulillah, besar. "Semua ini berkat ridho Allah Subhanahuwata'ala. Bahkan toko ponsel saya yang paling besar di daerah kampus UMSU itu."


Toko itu sewanya di awal Rp 14 juta untuk dua tahun. Tapi dua tahun di tahun kedua naik menjadi Rp 18 juta, bahkan dua tahun berikutnya di tahun ketiga naik drastis menjadi Rp 40 juta. "Pada tahun kedua dengan sewa Rp 18 juta semuanya masih stabil dan keuntungan lumayan hingga saya bisa melakukan renovasi rumah. Tapi di tahun ketiga masa perpanjangan atau tahun kelima saya usaha hasil menurun, ditambah beban biaya renovasi rumah, hal ini membuat saya banting stir nyambi dagang yang lain," kata Edy Hasibuan.


Padahal saat itu, menurut Edy Hasibuan, keluarganya terutama ayahnya mulai mengakui hasil kerja kerasnya. "Bedagang juga yang betulnya," kata Edy menirukan ungkapan ayahnya.


Tapi zaman telah berubah, toko ponsel dan penjual pulsa mulai menjamur di sana sini. Bahkan menggunakan mobil di pinggir pinggir jalan. Maka untuk mengatasi penurunan penghasilan bisnis ponselnya, ia jualan kopi blank di toko ponselnya, namun tak berhasil. Lalu jualan es kelapa muda juga di belakang pasar simpang limun.


"Kenapa harus di belakang pasar simpang limun, tujuannya supaya jangan dilihat kawan. Kita kan malu, dulu kita kerja di bank, ganteng, naik mobil. Lalu jualan es. Kalau ketahuan kan malu. Waktu itu saya jalani berjualan bersama dengan istri, sebab istri juga sudah tidak bekerja di bank."


Pada kondisi tersebut, kawan dan saudara yang ada kembali menjauh. Tidak seperti saat jaya dalam berbisnis ponsel, punya duit banyak. "Mereka menyebut saya, sudah bangkrut ya!, tapi saya cuek saja dan terus bertawakkal," jelasnya.


Sampai-sampai kata Edy Hasibuan, anaknya yang pertama si Faris malu pada teman temannya. “Ma..! cari kerja lagilah di Bank atau di mana kek," katanya menyampaikan keluhan anaknya saat ekonomi menurun drastis. Tapi ia tetap menyemangati anak-anaknya dan meyakinkan bahwa kedua orangtuanya terus berusaha untuk yang lebih baik lagi.


"O...ia bang, ada satu cerita haru dan lucu. Pernah suatu hari saat jualan kelapa muda, kelapanya kan kami belah dan congkel di rumah, lalu dibawa ke pasar. Namun dalam satu hari hanya laku lima gelas. Saat pulang, istri saya bertanya, Bang..!? bagaimana sisanya air kelapa ini?. Waktu itu saya katakan, kita buat untuk air mandi saja! -- hal ini membuat tawa kami berdua. Yakhh, sesuai prinsip kami, kita yang harus memberi semangat dan menghibur diri kita, bukan orang lain. Jualan es kelapa muda ini saya lakukan hanya dua bulan."


Balik kanan, Edy pun meneruskan kembali jualan kopi blank. Alhamdulillah, berkembang. Di sinilah mereka mulai bangkit, sampai memiliki 43 cabang hingga ke Aceh. Bisnis pun mulai dikemas dengan lebih modern, sistem franchise.


"Di Medan selain franchise saya ada di Medan Johor, Simalingkar, kampus USU dan Pajus, Delitua, Marelan serta simpang Marelan. "Semua titik penjualan ini di seputaran kota Medan, nama produknya Kopi Blank dengan merek Deli Kopi. Usaha ini kami lakukan lebih kurang satu tahun. Lalu kami tutup, karena sudah tidak tertangani lagi. Kerjanya sangat capek, saya harus mengantari bahan jualan kopi Blank ke 10 titik milik saya, belum ke yang lainnya di link franchise sa


Bisnis Eco Racing



PT Bandung Eco Sinergi Teknologi atau yang biasa disebut PT BEST adalah tambatan Edy Hasibuan berikutnya dalam menjalani petualangan bisnisnya. Perusahaan e-commerce yang bergerak dalam bidang perdagangan barang dan jasa ini, meliputi empat bidang, yaitu kesehatan, kecantikan, telekomunikasi, dan transportasi.


Inilah masa peralihan bagi Edy Hasibuan. Terjadi pada Mei 2018. Saat itu ia bertemu tewan, dan menawarkan bisnis Eco Racing. "Katanya ini bisnis bagus, tidak perlu gaji karyawan. Kita cukup hanya memasarkan saja. InshaAllah hasilnya sangat lumayan," sebutnya.


Produknya menurt Edy Hasibuan, berupa penghemat BBM, Pupuk Eco Farming, Herbal, Oli, dan Eco Feed (vitamin ternak). "Mitra kami itu sudah banyak, mulai dari Aceh sampai ke Makasar. Dan saat ini bisnis networking inilah yang berkembang. Kami harus jemput bola. Seperti saya, cukup cari mitra dan koordinator di setiap daerah. Seterusnya mitra dan koordinator daerah itulah yang mengembangkan di sana. Dan semua kebutuhan produk yang dibutuhkannya dibeli melalui saya."


Jejaring saya di Wilayah Sumut terdiri dari Deliserdang, Lubuk Pakam, Tarutung, Tebingtinggi, Kisaran, Pematang Siantar, Penyabungan, Padang Sidempuan, Sidikalang, Berastagi dan di wilayah Aceh ada di Kota Cane, Gayo, Banda Aceh serta Aceh Tamiang.


Sebagai informasi katanya, dengan menggunakan Pupuk Ecoparmin ini, hasil panen bisa naik sangat baik, melimpah. "Misalnya, biasa kalau panen 1 hektar 7 ton. Tapi setelah mengunakan pupuk Ecoparmin ini bisa panen mencapai 10 sampai dengan 11 ton. Dan pupuk Ecoparmin ini bisa digunakan oleh semua jenis tanaman. Produk ini produk anak bangsa, tapi digunakan oleh dunia," katanya meyakinkan.


Ia pun sukses di bisnis ini. Belum sampai setahun berjualan produk Eco Racing, ia sudah mendapatkan reward satu unit mobil Pajero dan lima unit sepeda motor. "Alhamdulillah, hingga saat ini saya dan istri tetap melakukan jualan produk Eco Racing. Dengan cara jemput bola dan disertai doa serta tetap berharap Ridho dari Allah Subhanahuwata'ala."


Puncaknya, kisah keberhasilan Edy Sutan Hasibuan di Eco Racing menjadi penutup cerita ini. Sebab waktu itu, tanpa terasa sudah mendekati waktu adzan untuk Sholat Djuhur. Penulis pun mohon diri beranjak sila. (Eddy. H. Tambunan)

Editor: Aziz AR Panjaitan

Sumber: Hasil Liputan

T#gs
Berita Terkait
FB Comments