“Masjid di Hati Setiap Insan – Dari Masjid Membangun Ummat”

“Dana Ummat Jadi Pilar Utama Untuk Menopang Perekonomian dan Kesejahteraan Ummat”

Tausiah Ustadz H Rakhmat Hidayat Nasution Lc MA

Agar Selalu Dicintai Allah, Malaikat dan Kaum Muslimin

H Rakhmat Hidayat Nasution Lc MA Selasa, 03 Maret 2020 06:19 WIB
Eddy H Tambunan

H.Rakhmat Hidayat Nasutin,Lc,M.A

INGINKAH kita selalu dicintai Allah? Tak inginkah kita selalu mendapatkan doa-doa kebaikan dari Malaikat? Atau tak adakah keinginan kita agar selalu kehadiran kita dirindukan oleh saudara-saudara seakidah? Jika jawabannya, iya. Maka, yang harus kita lakukan adalah memiliki kunci utamanya. Tanpa ada kuncinya, kita tak akan pernah bisa membuka pintu cintanya Allah SWT, malaikat dan saudara-saudara se-akidah yang ada di sekeliling kita.

Pertanyaannya, apa kunci utama agar kita selalu dicintai? Pertanyaan ini pernah diajukan kepada Utsman bin Affan. Dengan tegas, sahabat Rasulullah SAW yang dikenal dengan kedermawanannya tersebut menjawab, “Siapa yang mampu meninggalkan kesenangan dunia, dia pasti akan dicintai Allah SWT. Siapa yang dengan sekuat tenaganya menghindari dosa-dosa, dia pasti akan dicintai para malaikat. Dan siapa menyingkirkan sifat tamak, maka dia akan dicintai saudara-saudaranya yang muslim.”

Bila dikaji, apa yang ditandaskan oleh Utsman bin affan tersebut adalah benar. Jika kita mampu meninggalkan kesenangan duniawi, hati kita pasti selalu ingat akhirat. Sebab kita menyadari bahwa hidup di dunia hanya untuk bercocok tanam. Untuk memetik hasil, tempatnya adalah di surga. Karena itu, dengan tegas oleh Allah SWT menjelaskan di dalam al-Qur’an tentang balasan-balasan yang diberikan Allah kepada hamba-hamba-Nya yang taat dan tak tergiur dengan kesenangan duniawi.

Penting diperjelas, bahwa meninggalkan kesenangan duniawi bukan berarti tak makan, tak minum, tidak memiliki pakaian dan tidak memiliki kenderaan. Meninggalkan kesenangan duniawi maskudnya, mengambil dari apa yang di dunia ini secukupnya saja. Jika kebutuhan sudah terpenuhi, maka kebutuhan tersebut diberikan kepada orang lain. Bila dikasi Allah harta yang banyak, maka yang dipikirkan bukan untuk kepentingan diri sendiri, tapi yang dipikirkan adalah saudara-saudaranya yang tidak mampu.

Sehingga ketika memiliki harta yang banyak, bukan hanya sibuk memikirkan daerah-daerah wisata yang ingin dikunjungi saja. Tapi, juga sibuk memikirkan saudara mana yang layak untuk dibantu. Sehingga, ada manajemen yang baik dalam hidup. Dalam satu tahun ditentukan berapa daerah wisata yang bakal dikunjungi. Atur keuangan dan kebutuhan selama melakukan wisata. Bila ada kelebihan, maka berikan yang lebih tersebut kepada saudara-saudara yang membutuhkan.

Inilah karakter yang dimiliki oleh kaum Anshor. Mereka memiliki jiwa empati kepada sesama saudaranya. Bahkan dalam kondisi susah pun mereka masih siap untuk memberikan apa yang dimilikinya. Tak tanggung-tanggung, Allah pun di dalam al-Qur’an menggambarkan karakter mereka agar layak ditiru oleh kaum muslimin. Allah SWT berfirman, “Dan mereka (kaum Anshar) mengutamakan (kaum Muhajirin), atas diri mereka sendiri, sekalipun mereka dalam kesusahan. Dan siapa yang dipelihara dari kekikiran dirinya, mereka itulah orang orang yang beruntung.” (QS. Al Hasyr: 9)

Bila kita sudah mampu menempatkan dunia pada posisinya, pasti kita akan dicintai Allah SWT. Maka, kita mesti selalu berkaca pada kehidupan Rasulullah. Beliau perlu kepada dunia. Tapi bila keperluannya sudah selesai, maka diberikannya kepada orang yang membutuhkan. Bahasa lebih sederhananya, ada ‘regenerasi’ yang dicari Rasulullah untuk menikmati rezeki dunia yang diberikan Allah SWT kepadanya.

Selain jangan cinta terhadap dunia, kita juga harus berusaha sekuat tenaga menjauhi dosa-dosa. Siapakah yang akan mencintai kita kalau jauh dari dosa? Jawabannya adalah malaikat. Malaikat adalah hamba Allah SWT yang taat. Mereka tidak pernah mengingkari apa yang diperintahkan-Nya. Makanya, para malaikat sangat suka kepada orang yang taat. Sebab orang yang taat adalah orang yang sangat takut dan bahkan berusaha keras menjauhi dosa-dosa. Jika kita bisa menjauhi segala perbuatan dan perkataan yang mengandung dosa, kita bakal dicintai Allah SWT dan para malaikatnya. Allah SWT berfirman, “Jika kamu menjauhi dosa-dosa besar diantara dosa-dosa yang kamu dilarang mengerjakannya, niscaya Kami hapus kesalahan-kesalahanmu dan kami masukkan kamu ke tempat mulia (surga),” (QS. An-Nisa [4]: 31)

Jika Allah sudah mencintai kita, malaikat sudah mencintai kita, lantas apa yang kita lakukan agar saudara-saudara seagama dan seakidah juga mencintai kita? Utsman menjawab, kita harus menjauhi sifat tamak. Sifat yang ingin menguasai sendiri. Islam adalah agama yang senantiasa menjunjung tinggi kebersamaan. Shalat yang banyak nilainya adalah shalat yang dilakukan bersama-sama, baik dengan saudara seakidah maupun dengan keluarga.

Begitu juga dengan hal yang lain. Apalagi dalam masalah pekerjaan. Sekalipun kita mampu mengerjakannya pekerjaan tersebut sendiri, tapi akan lebih baik jika dilakukan bersama-sama dengan teman. Inilah indahnya nilai ajaran Islam. Makanya, di dalam al-Qur’an Allah SWT sudah menegaskan perintah untuk bersama-sama dalam hal kebaikan. Tidak boleh ‘diborong’ sendirian. Allah SWT berfirman, “Bertolong-tolonglah kamu dalam kebaikan dan ketakwaan. Janganlah kamu bertolong-tolongan dalam berbuat dosa dan permusuhan. Bertakwalah kepada Allah. Sesungguhnya azab Allah sangat pedih.” (QS. Al-Maidah [5]: 2)

Karena itu, perkuatlah diri kita untuk tidak tenggelam dalam kesenangan duniawi, tidak terjerumus dalam melakukan dosa dan singkirkanlah sifat tamak dalam kehidupan. Jika ketiga ini bisa dilakukan pasti kita akan dicintai Allah, malaikat dan kaum muslim. Utsman bin Affan sudah membuktikannya. Ia dicintai Allah, para malaikat dan kaum muslimin hingga saat ini. Tak adakah keinginan kita mendapatkan kebahagiaan seperti yang dialami oleh Utsman bin Affan? Semoga Allah memberikan pertolongan dan kekuatan untuk bisa melakukan nasehat Utsman tersebut dan menjadikan kita orang yang selalu dicintai Allah, malaikat dan kaum muslim. Amin.

Penulis adalah Sekretaris Komisi Informasi dan Komunikasi MUI Kota Medan

Editor: Aziz AR Panjaitan

Sumber: Tulisan H.Rakhmat Hidayat,Lc,M.A

T#gs Rakhmat Hidayatartikeltausiah
FB Comments