“Masjid di Hati Setiap Insan – Dari Masjid Membangun Ummat”

“Dana Ummat Jadi Pilar Utama Untuk Menopang Perekonomian dan Kesejahteraan Ummat”

Tausiah Ustadz DR Imam Yazid MA

FIKIH 1 كتاب الطهارة THAHARAH

Tulisan Berdasarkan Kiriman DR Imam Yazid MA
DR IMAM YAZID MA Jumat, 06 Maret 2020 18:39 WIB
dokumen pribadi

DR. IMAM YAZID,M.A


FIKIH 1

كتاب الطهارة
THAHARAH

Dipaparkan Oleh: DR.H.Imam Yazid,M.A
(Disampaikan Pada Sabtu 7 Maret 2020, Sehabis Sholat Subuh, Bertempat di Masjid Al Issyah Hakim)


Pendahuluan

Apa itu fiqh?


Arti secara bahasa berarti PAHAM.

Arti secara istilah:
“Mengetahui hukum-hukum syara` yang amaliyah (mengenai perbuatan, perilaku) dengan melalui dalil-dalilnya yang terperinci.


Fikih adalah ilmu yang dihasilkan oleh pikiran (ijthad) serta penggalian hukum yang hanya dapat dilakukan oleh mujtahid.


Orang yang ahli dalam ilmu fikih disebut dengan faqih (فاقه), atau dalam bentuk jama` (plural) adalah fuqaha (فقهاء).
Fuqaha termasuk dalam kategori ulama, meskipun tidak setiap ulama adalah fuqaha.


Pengertian Thaharah

Thaharah (الطهارة) menurut bahasa berarti bersuci. Menurut syara` adalah membersihkan diri, pakaian, tempat, dan benda-benda lain dari najis dan hadas menurut cara-cara yang ditentukan dalam syariat islam.

Allah menyukai orang-orang yang mensucikan diri, sebagaimana firman Allah dalam QS. Al-Baqarah: 222
“Sesungguhnya Allah menyukai orang-orang yang tobat dan menyukai orang-orang yang mensucikan diri.”

Hadis Nabi Saw:
“Dari Abu Hurairah r.a. Telah bertanya seorang laki-laki kepada Rasulullah Saw. Kata laki-laki itu: Ya Rasulullah, kami berlayar di laut dan kami hanya membawa air sedikit. Jika kami pakai air itu untuk berwudhu’, maka kami akan kehausan. Bolehkah kami berwudhu’ dengan air laut? Jawab Rasulullah Saw: Air laut itu suci lagi mensucikan, bangkainya halal dimakan.” (HR. Lima Ahli Hadis).


Air Suci Mensucikan

Air yang suci mensucikan boleh diminum dan sah dipakai untuk mensucikan benda yang lain.

Air ini disebut air mutlak, yaitu air yang tetap (belum berubah rasa, warna, dan bau) keadaannya, yaitu air yang turun dari langit atau memancar dari bumi.
Air mutlak ada tujuh macam, yaitu:
1. Air hujan
2. Air laut
3. Air sungai
4. Air sumur
5. Air es yang sudah mencair
6. Air embun
7. Air mata air


Air yang suci mensucikan boleh diminum dan sah dipakai untuk mensucikan benda yang lain.

Air ini disebut air mutlak, yaitu air yang tetap (belum berubah rasa, warna, dan bau) keadaannya, yaitu air yang turun dari langit atau memancar dari bumi.
Air mutlak ada tujuh macam, yaitu:
1. Air hujan
2. Air laut
3. Air sungai
4. Air sumur
5. Air es yang sudah mencair
6. Air embun
7. Air mata air


Zatnya suci, tetapi tidak sah dipakai untuk mensucikan sesuatu.

Air yang suci tetap tidak mensucikan adalah:
1. Air yang telah berubah salah satu sifatnya karena bercampur dengan suatu benda yang suci, seperti air kopi, teh, dan sebagainya.
2. Air sedikit (kurang dari dua kullah), sudah terpakai untuk menghilangkan hadas atau menghilangkan hukum najis, sedangkan air itu tidak berubah sifatnya dan tidak pula bertambah timbangannya.
3. Air pepohonan atau buah-buah, seperti air yang keluar dari tekukan pohon kayu, air kelapa, dan sebagainya.


Air Bernajis

Air yang termasuk bagian ini ada dua macam:
1. Sudah berubah salah satu sifatnya oleh najis. Air ini tidak boleh dipakai lagi, baik airnya sedikit atau banyak, sebab hukumnya seperti najis.
2. Air bernajis, tetapi tidak berubah salah satu sifatnya. Air ini kalau sedikit (kurang dari dua kullah) tidak boleh dipakai lagi, bahkan hukumnya sama dengan najis. Kalau air itu banyak (lebih dua kullah), hukumnya tetap suci dan mensucikan.

Sabda Rasulullah Saw: “Air itu tidak dinajisi sesuatu, kecuali apabila berubah rasa, warna, atau baunya.” (HR. Ibn Majah dan Baihaqi).
Hadis riwayat lain: “Apabila air cukup dua kullah, tidaklah dinajisi oleh suatu apapun.” (HR. Lima Ahli Hadis).


Air Makruh

Air yang makruh adalah air yang terjemur oleh matahari dalam bejana, selain bejana emas atau perak. Air ini makruh dipakai untuk badan, tetapi tidak makruh untuk pakaian; kecuali air yang terjemur di tanah, seperti air sawah, air kolam, dan tempat-tempat yang bukan bejana yang mungkin berkarat.

Diriwayatkan dari Aisyah. Sesungguhnya Aisyah telah memanaskan air dengan cahaya matahari, maka Rasulullah Saw berkata padanya: “Jangan engkau berbuat demikian ya Aisyah. Sesungguhnya air yang dijemur itu dapat menimbulkan penyakit sopak.”


Pengertian Thaharah

Thaharah (الطهارة) menurut bahasa berarti bersuci. Menurut syara` adalah membersihkan diri, pakaian, tempat, dan benda-benda lain dari najis dan hadas menurut cara-cara yang ditentukan dalam syariat islam.

Allah menyukai orang-orang yang mensucikan diri, sebagaimana firman Allah dalam QS. Al-Baqarah: 222
“Sesungguhnya Allah menyukai orang-orang yang tobat dan menyukai orang-orang yang mensucikan diri.”


Pengertian Najis

Arti Najis secara bahasa adalah kotor.

Arti Najis secara istilah adalah kotoran yang wajib dihindari dan dibersihkan oleh setiap muslim jika terkena.


Benda-benda yang termasuk najis:
1. Bangkai binatang darat yang berdarah selain dari mayat manusia.
2. Darah.
3. Nanah.
4. Segala benda cair yang keluar dari dua jalan.
5. Arak.
6. Anjing dan Babi
7. Bagian badan binatang yang diambil dari tumbuhnya selagi hidup.


Najis mughallazhah (berat), yaitu najis anjing dan babi.

Benda yang terkena najis ini harus dibasuh tujuh kali, satu kali diantaranya dibasuh dengan air yang dicampur dengan tanah.

Rasulullah Saw bersabda:
“Cara mensucikan bejana seseorang dari kamu apabila dijilat anjing, hendaklah dibasuh tujuh kali, salah satunya hendaknya dicampur dengan tanah.” (HR. Muslim).

Babi diqiyaskan (disamakan) dengan anjing karena keadaannya lebih buruk dari anjing.


Cara mensucikan najis ringan adalah dengan memercikkan air pada benda itu, meskipun tidak mengalir.

Adapun kencing anak perempuan yang belum memakan apa-apa selain ASI, cara mensucikannya dengan dibasuh sampai air mengalir di atas benda yang kena najis itu, dan hilang zat najis dan sifat-sifatnya, sebagaimana mensucikan kencing orang dewasa.


Dalil
Diriwayatkan: Sesungguhnya Ummu Qais telah datang kepada Rasulullah Saw beserta bayi laki-lakinya yang belum makan makanan selain ASI. Sesampainya di depan Rasulullah, beliau dudukkan anak itu di pangkuan beliau, kemudian beliau Saw dikencinginya, lalu beliau meminta air, lantas beliau percikkan air itu pada kencing kanak-kanak tadi, tetapi beliau tidak membasuh kencing itu. (HR. Bukhari dan Muslim).
Dalam riwayat lain, Rasulullah Saw bersabda: Kencing kanak-kanak perempuan dibasuh, dan kencing kanak-kanak laki-laki diperciki. (HR. Tirmizi)


Najis Mutawassithah (pertengahan), yaitu najis selain kedua di atas.

Najis pertengahan terbagi atas dua bagian:
a. Najis hukmiyah, yaitu yang diyakini adanya, tetapi tidak nyata zatnya, bau, rasa, dan warnanya. Misalnya kencing yang sudah kering, sehingga sifat-sifatnya telah hilang. Cara mensucikan najis ini cukup dengan mengalirkan air di atas benda yang kena itu.
b. Najis `ainiyah, yaitu yang masih ada zatnya, warna, rasa, dan baunya; kecuali warna atau bau yang sangat sukar menghilangkannya maka dimaafkan. Cara mensucikan najis ini dengan menghilangkan zatnya, rasa, warna, dan baunya.


Najis ma`fu (dimaafkan).

Najis yang dimaafkan yaitu:
a. Bangkai binatang yang tiada mengalir darahnya. Misalnya lalat dan semut jika terjatuh ke dalam air, dimaafkan. Air tersebut tidak dihukumkan najis.
b. Darah, nanah, dan muntah yang sedikit dimaafkan terbawa dalam salat. Darah nyamuk, darah kutu, dan sebagainya yang kena pada pakaian dengan tidak sengaja.
c. Darah dan nanah dari tubuhnya sendiri, misalnya darah bisul walaupun banyak jika tidak melewati dari tempat mengalirnya yang biasa atau darah itu terkena pada pakaiannya dengan tidak sengaja.
d. Tanah, lumpur, dan air jalan yang bernajis jika terkena badan atau pakaian sewaktu berjalan.


Bersuci dari buang air besar dan air kecil disebut istinja’. Cara beristinjak adalah dengan melakukan salah satu dari tiga cara sebagai berikut:
1. Membasuh tempat keluar najis dengan air hingga bersih.
2. Menyapunya dengan batu hingga bersih. Sekurang-kurangnya dengan tiga buah batu atau dengan tiga tepi sebuah batu. Sebagai pengganti batu boleh juga digunakan benda-benda lain yang kesat.
3. Menyapunya lebih dahulu dengan batu atau dengan benda lain yang kesat, sesudah itu membasuhnya dengan air.


Wudhu’
Perintah wudhu’ bersamaan dengan perintah wajib shalat lima waktu, yaitu satu setengah tahun sebelum hijrah.

Hai orang-orang yang beriman, apabila kamu hendak mengerjakan shalat, maka basuhlah mukamu dan tanganmu sampai dengan siku, dan sapulah kepalamu dan (basuh) kakimu sampai dengan kedua mata kaki, dan jika kamu junub maka mandilah, dan jika kamu sakit atau dalam perjalanan atau kembali dari tempat buang air (kakus) atau menyentuh perempuan, lalu kamu tidak memperoleh air, Maka bertayammumlah dengan tanah yang baik (bersih); sapulah mukamu dan tanganmu dengan tanah itu. Allah tidak hendak menyulitkan kamu, tetapi Dia hendak membersihkan kamu dan menyempurnakan nikmat-Nya bagimu, supaya kamu bersyukur.
(QS. Al-Maidah ayat 6)


Syarat-syarat Wudhu’
1. Islam
2. Mumayyiz, karena wudhu merupakan ibadah yang wajib diniati, sedangkan orang yang tidak beragama Islam dan orang yang belum mumayyiz tidak diberi hak untuk berniat.
3. Tidak berhadas besar.
4. Dengan air yang suci menyucikan.
5. Tidak ada yang menghalangi sampainya air ke kullit, seperti getah dan sebagainya yang meletak di atas kulit anggota wudhu’.


Fardhu Wudhu’
1. NIAT.
Hendaklah berniat menghilangkan hadas atau menyengaja berwudhu’.
Yang dimaksud dengan niat menurut syara’ adalah kehendak sengaja melakukan pekerjaan karena tunduk kepada hukum Allah Swt.


MEMBASUH DUA TANGAN SAMPAI SIKU.
4. MENYAPU SEBAGIAN KEPALA. Walaupun hanya sebagian kecil.
5. MEMBASUH DUA TELAPAK KAKI SAMPAI KEDUA MATA KAKI.
6. TERTIB.


Sunat Wudhu’
1. Membaca bismillah pada permulaan wudhu’.
2. Membasuh kedua telapak tangan sampai pada pergelangan.
3. Berkumur-kumur.
4. Memasukkan air ke hidung
5. Menyapu seluruh kepala.
6. Menyapu kedua telinga luar dan dalam.
7. Menyilang-nyilangi jari tangan dan kaki.
8. Mendahulukan anggota kanan daripada kiri
9. Membasuh tiap anggota tiga kali.


Berturut-turut antara anggota. Maksudnya sebelum kering anggota pertama, anggota kedua dibasuh, dan seterusnya.
11. Tidak dilap, kecuali ada hajat seperti sangat dingin.
12. Tidak berbicara, kecuali ada hajat.
13. Bersiwak.
14. Melebihkan batas basuhan muka, tangan dan kaki dari yang wajib dibasuh.
15. Membaca doa sesudah wudhu’


Yang Membatalkan Wudhu’
1. Keluar sesuatu dari salah satu dua jalan kotoran, baik berupa zat padat atau angin, yang biasa ataupun tidak biasa, seperti darah.

2. Hilang akal karena mabuk, gila, atau karena tidur dengan tempat keluar angin yang tidak tertutup. Adapun tidur dengan pintu keluar angin yang tertutup (seperti orang tidur dengan duduk yang tetap), tidaklah batal wudhu’nya. Alasannya karena tidak diragukan tidak ada yang keluar darinya.

Ada hadis riwayat Imam Muslim, bahwa sahabat-sahabat Rasulullah pernah tertidur, kemudian mereka shalat tanpa berwudhu’ lagi.

3. Bersentuhan kulit laki-laki dengan kulit perempuan.

4. Menyentuh kemaluan atau pintu dubur dengan telapak tangan.



Mandi

Mandi adalah mengalirkan air ke seluruh badan dengan niat.

Mandi terbagi dua:
1. Mandi Wajib
2. Mandi Sunat


Pertama

MANDI WAJIB


Sebab-Sebab Mandi Wajib
Sebab-sebab wajib mandi ada enam, tiga diantaranya biasa terjadi pada laki-laki dan perempuan, dan tiga lagi tertentu (khusus) pada perempuan saja.

1. Bersetubuh, baik keluar mani ataupun tidak.

Rasulullah Saw bersabda:
اذا التقى الختانان فقد وجب الغسل وان لم ينزل
“Apabila dua yang dikhitan bertemu, maka sesungguhnya telah diwajibkan mandi, meskipun tidak keluar mani.” (HR. Muslim)


2. Keluar mani, baik keluarnya karena bermimpi ataupun sebab lain dengan sengaja atau tidak, dengan perbuatan sendiri atau bukan.

Rasulullah Saw bersabda:

عن ام سلمة ان ام سليم قالت يارسول الله ان الله لا يستحى من الحق فهل على المرأة الغسل اذا احتملت قال نعم اذا رأت الماء

“Sesungguhnya Ummi Sulaim telah bertanya kepada Rasulullah Saw: “Ya Rasulullah sesungguhnya Allah tidak malu memperkatakan yang baik. Apakah perempuan wajib mandi apabila bermimpi? Jawab beliau: “Ya (wajib atasnya mandi), apabila ia melihat air (artinya keluar mani).” (Muttafaq ‘Alaih).


عن خولة انها سألت النبى صلى الله عليه وسلم عن المرأة ترى فى منامها ما يرى الرجل فقال ليس لها عليها غسل حتى تنزل كما ان الرجل ليس عليه غسل حتى ينزل

“Dari Khaulah, sesungguhnya ia telah ebrtanya kepada Nabi Saw mengenai perempuan yang bermimpi seperti laki-laki bermimpi. Jawab Nabi: “Ia tidak wajib mandi sehingga keluar maninya sebagaimana laki-laki tidak wajib mandi apabila tidak keluar mani.” (Riwayat Ahmad dan Nasai).


3. Mati. Orang Islam yang mati, fardhu kifayat atas muslimin yang hidup memandikannya, kecuali orang yang mati syahid.

Rasulullah Saw bersabda:

عن ابن عباس ان رسول الله صلى الله عليه وسلم قال فى المحرم الذى وقصته ناقته اغسلوا بماء وسدر

“Dari Ibn Abbas. Sesungguhnya Rasulullah Saw telah berkata tentang orang yang berihram yang terlempar dari punggung untanya hingga meninggal. Beliau berkata: “Mandikanlah dia olehmu dengan air dan daun sidr (sabun).” (HR. Bukhari dan Muslim).


4. Haidh. Apabila seorang perempuan telah berhenti dari haidh, ia wajib mandi agar ia dapat shalat dan dapat bercampur dengan suaminya.

Rasulullah Saw bersabda:

قال رسول الله صلى الله عليه وسلم لفاطمة بنت ابى حبيس اذا اقبلت�' الحيضةُ فدَعِىَ الصلاةَ واذا ادبرت فاغتسلى وصلى

“Beliau berkata kepada Fatimah binti Abi Hubaisy: “Apabila datang haidh itu hendaklah engkau tinggalkan shalat, dan apabila habis haidh itu hendaklah engkau mandi dan shalat.


5. Nifas. Yang dinamakan nifas ialah darah yang keluar dari kemaluan perempuan sesudah melahirkan anak. Darah itu merupakan darah haidh yang berkumpul, tidak keluar sewaktu perempuan mengandung.

6. Melahirkan. Baik anak yang dilahirkan itu cukup umur ataupun tidak, seperti keguguran.


Fardhu (Rukun) Mandi
1. Niat
2. Mengalirkan air ke seluruh badan.
Sunat-sunat Mandi
1. Membaca Bismillah pada permulaan mandi
2. Berwudhu’ sebelum mandi.
3. Menggosok-gosok seluruh badan dengan tangan.
4. Mendahulukan yang kanan daripada yang kiri.
5. Berturut-turut



Kedua

MANDI SUNAT


1. Mandi Hari Jumat, disunatkan bagi orang yang bermaksud akan mengerjakan shalat Jumat, agar baunya yang busuk tidak mengganggu orang di sekitar tempat duduknya.

Rasulullah Saw bersabda:

عن ابن عمر قال قال رسول الله صلى الله عليه وسلم اذا اراد احدكم ان يأتى الجمعةَ فليغتسل

“Dari Ibn Umar. Ia berkata: Rasulullah Saw bersabda: “Apabila salah seorang hendak pergi shalat Jumat, hendaklah ia mandi.” (HR. Muslim).


2. Mandi Hari Raya Idul Fitri dan Idul Adha.

Rasulullah Saw bersabda:

عن الفاكه بن سعيد أن النبى صلى الله عليه وسلم كان يغتسلُ يوم الجمعة ويوم عرفة ويوم الفطر ويوم النح�'ر

“Dari Fakih bin Sa’di. Sesungguhnya Nabi Saw mandi pada hari Jumat, hari Arafah, hari Raya Fitri, dan pada hari Raya Haji.”


3. Mandi orang gila bila sembuh dari gilanya.

4. Mandi tatkala hendak ihram haji atau umrah.

Rasulullah Saw bersabda:

عن زيد بن ثابت أن رسول الله صلى الله عليه وسلم تجر�'َد لإهلاله واغتسل

“Dari Zaid bin Tsabit. Sesungguhnya Rasulullah Saw membuka pakaian beliau ketika hendak ihram, dan beliau mandi.” (HR. Tirmizi).


5. Mandi sehabis memandikan mayat

Rasulullah Saw bersabda:

من غسل ميتا فليغتسل ومن حمَله فليتوضأ

“Barangsiapa memandikan mayat, hendaklah ia mandi. Dan barangsiapa membawa mayat, hendaklah ia berwudhu’. (HR. Tirmizi, dan dikatakan Hadis Hasan).


6. Mandi seorang kafir setelah memeluk agama Islam

Hadis:

عن قيس بن عاصم انه اسلم فأمر النبى صلى الله عليه وسلم ان يغتسل بماء وسدر

“Dari Qais bin Ashim. Ketika ia masuk Islam, Rasulullah Saw menyuruhnya mandi dengan air dan daun bidara. (HR. Lima ahli Hadis selain Ibn Majah).
Perintah ini menjadi sunat hukumnya, bukan wajib, karena ada qarinah (tanda) yang menunjukkan bukan wajib, yaitu beberapa orang sahabat ketika mereka masuk Islam tidak disuruh mandi oleh Nabi.


Tayammum

Tayammum ialah mengusapkan tanah ke wajah dan kedua tangan sampai siku dengan beberapa syarat.


Tayammum adalah pengganti wudu atau mandi, sebagai ruKkhshah (keringanan) untuk orang yang tidak dapat memakai air karena beberapa halangan (uzur), yaitu
1. Uzur karena sakit. Kalau ia memakai air, bertambah sakitnya atau lambat sembuhnya, menurut keterangan dokter atau tabib yang berpengalaman tentang penyakit serupa itu.
2. Karena dalam perjalanan.
3. Karena tidak ada air


Syarat Tayammum
1. Sudah masuk waktu shalat. Tayammum disyariatkan untuk orang yang terpaksa. Sebelum masuk waktu shalat ia belum terpaksa, sebab shalat belum wajib atasnya ketika itu.
2. Sudah diusahakan mencari air, tetapi tidak dapat, sedangkan waktu sudah masuk.


3. Dengan tanah yang suci dan berdebu. Menurut pendapat Imam Syafii, tidak sah tayammum selain dengan tanah. menurut pendapat Imam yang lain, boleh (sah) tayammum dengan tanah, pasir, atau batu.

Dalil pendapat yang kedua ini adalah sabda Rasulullah Saw:

جعلت لى الأرض طيبة وطهورا ومسجدا. متفق عليه

“Telah dijadikan bagiku bumi yang baik, menyucikan, dan tempat sujud” (Muttafaq alaih).
Perkataan “bumi” termasuk juga tanah, pasir, dan batu


3. Menghilangkan najis. Sebelum melakukan tayanmmum itu hendaklah ia bersih dari najis, menurut pendapat sebagian ulama, tetapi menurut pendapat yang lain tidak.


Fardhu (Rukun) Tayammum
1. Niat. Orang yang akan melakukan tayammum hendaklah berniat karena hendak mengerjakan shalat dan sebagainya, bukan semata-mata menghilangkan hadas saja, sebab sifat tayammum tidak dapat menghilangkan hadas, hanya diperbolehkan untuk melakukan shalat karena darurat. Keterangan bahwa niat tayammum hukumnya wajib ialah hadis yang mewajibkan niat wudhu’.
2. Mengusap muka dengan tanah.
3. Mengusap kedua tangan sampai ke siku dengan tanah.
4. Tertib. Artinya mendahulukan muka dari tangan. Alasannya sebagaimana keterangan menertibkan rukun wudhu’. Sebagian ulama ada yang berpendapat bahwa tidak wajib menertibkan rukun tayammum.


Beberapa masalah yang bersangkutan dengan tayammum
1. Orang yang tayammum karena tidak ada air, tidak wajib mengulang shalatnya apabila mendapat air. Alasannya ialah ayat tayammum di atas. Tetapi orang yang tayammum karena junub, apabila mendapat air maka ia wajib mandi bila ia hendak mengerjakan shalat berikutnya sebab tayammum itu tidak menghilangkan hadas, melainkan hanya boleh untuk keadaan darurat.
2. Satu kali tayammum boleh dipakai untuk beberapa kali shalat, baik shalat fardhu ataupun shalat sunat. Kekuatannya sama dengan wudhu’ karena tayammum itu adalah pengganti wudhu’ bagi orang yang tidak dapat memakai air. Jadi hukumnya sama dengan wudhu’. Demikian pendapat sebagian ulama. Yang lain berpendapat bahwa satu kali tayammum hanya sah untuk satu kali shalat fardhu dan beberapa shalat sunat, tetapi golongan ini tidak dapat memberikan dalil yang kuat atas pendapat mereka.
3. Boleh tayammum apabila luka atau karena hari sangat dingin, sebab luka itu termasuk dalam pengertian sakit. Demikian juga bila memakai air ketika hari sangat dingin, dikhawatirkan akan menjadi sakit.

“Dari Jabir. Ia berkata: “Kami keluar pada satu perjalanan. Kemudian seorang teman kami tertimpa batu sampai luka kepalanya. Kemudia ia bermimpi, lantas ia bertanya kepada teman-temannya Adakah kamu peroleh jaan yang memberi kelonggaran bagiku untuk tayammum?. Mereka menjawab: Kami tidak mengetahui jalan yang memberi kelonggaran bagimu, sedangkan engkau masih kuasa memakai air. Kemudian orang itu mandi sehingga menyebabkan dia mati. Kemudian ketika kami sampai kepada Rasulullah Saw diceritakanlah hal itu kepada beliau. Nabi berkata: Mereka telah membunuhnya. Allah akan membunuh mereka. Mengapa mereka tidak bertanya kala tidak mengetahui? Sesungguhnya obat keraguan ialah bertanya. Sebenarnya ia cukup tayammum saja dan dibalut lukanya, kemudian di atas balutannya itu disapu dengan iar, dan sekalian membasuh badannya yang lain.” (HR. Abu Dawud dan Daruquthni)


Sunat Tayammum
1. Membaca bismillah.
2. Mengembus tanah dari dua tapak tangan supaya tanah yang di tangan itu menjadi tipis.

Sabda Rasulullah Saw: Sesungguhnya cukuplah bagimu apabila kau pukulkan kedua tapak tanganmu ke tanah, kemudia engkau hembus kedua tanganmu itu lalu engkau usapkan kedua tanganmu itu ke muka dan tapak tanganmu.” (Riwayat Daruquthni)

3. Membaca dua kalimat syahadat sesudah selesai tayammum sebagaimana sesudah selesai berwudhu’.


Hal-hal yang membatalkan Tayammum
1. Tiap-tiap hal yang membatalkan wudhu’ juga membatalkan tayammum.
2. Ada air. Mendapatkan air sebelum shalat, batallah tayammum bagi orang yang tayammum karena ketiadaan air, bukan karena sakit.

Saksikan Video Tulisannya:




Wallahua'lam Bisshoab...

Editor: Aziz AR Panjaitan

Sumber: Tulisan Dr Imam Yazid MA

T#gs
Berita Terkait
FB Comments