“Masjid di Hati Setiap Insan – Dari Masjid Membangun Ummat”

“Dana Ummat Jadi Pilar Utama Untuk Menopang Perekonomian dan Kesejahteraan Ummat”

TAUSIAH USTADZ DR.WATNI MARPAUNG,M.A

KEKUATAN DO'A

Tulisan Berdasarkan Kiriman DR Watni Marpaung MA
Dr.Watni Marpaung,MA Jumat, 17 April 2020 19:13 WIB
web. kompas tv

Dr. Watni Marpaung,M.A


"من لم يستعن بالله على نفسه صرعته"

“Barangsiapa yang tidak meminta pertolongan kepada Allah untuk melawan dirinya, kau pasti kalah”

PENYEBARAN Covid 19 di dunia menjadi sesuatu yang sangat mengkhawatirkan. Korban yang terpapar sampai meninggal dunia terus berjatuhan. Amerika Serikat menjadi negara paling tertinggi tingkat penyebarannya dibandingkan dengan negara-negara lain di dunia. Indonesia dalam angka yang dilaporkan Gugus Covid nasional setiap hari terus bertambah, kendati pun upaya-upaya pencegahan terus digalakkan pemerintah kepada masyarakat. Usaha telah dilakukan secara massif baik secara sosial maupun individual dalam menekan penyebaran covid 19 di seluruh wilayah Indonesia.

Namun, satu hal yang tidak kalah, bahkan sangat penting selain berbagai ikhtiar dan usaha secara nasional dalam bentuk protokol kesehatan adalah doa kepada Zat yang memiliki alam semesta beserta isinya termasuk makhluk corona virus yang menjadi musibah nasional. Atas dasar itu, maka doa dalam kaitannya dengan wabah covid 19 menjadi sesuatu yang niscaya bahkan wajib untuk dilakukan sebagai upaya hamba bermohon pada Allah. Suatu keyakinan yang diyakini serratus persen bahwa tidak ada satu musibah yang menimpa dan terjadi kecuali atas izin Allah.

Bagaimana penting dan urgens posisi doa dalam kehidupan umat Islam dapat dilacak dari berbagai rujukan yang kuat. Pada hakikatnya doa secara sederhana bermakna permohonan dan permintaan atau talab (tuntutan) dari pihak yang posisinya berada di bawah kepada sesuatu yang posisinya lebih tinggi. Dalam konteks Islam, doa adalah permintaan seorang hamba kepada khaliknya. Permohonan seseorang didasarkan pada kondisi manusia yang tidak memiliki kemampuan untuk memenuhi apa yang diinginkannya. Maka pada hakikatnya, doa merupakan satu pernyataan ketidakberdayaan manusia di hadapan Tuhan. Namun sesuatu yang paling mendasar bahwa doa adalah ibadah kepada Allah SWT.

Sampai-sampai ungkapan yang ditegaskan di atas oleh Abu Madyan Al Maghribi bahwa untuk melawan diri sendiri tanpa memohon pertolongan kepada Allah Swt maka akan mengalami kekalahan dari diri sendiri. Dalam hal ini, tentu akan sangat lebih diharapkan dan dibutuhkan doa pengharapan yang kuat untuk kepentintingan yang lebih besar di luar diri kita sendiri.

Selain itu, doa juga merupakan sarana komunikasi kepada Allah. Seseorang yang berdoa sebenarnya dalam kondisi berbicara kepada Allah dalam jarak yang sangat dekat. Oleh sebab itu, Alquran menegaskan bahwa seorang hamba yang berdoa dalam kondisi yang sangat dekat dengan Allah. (Q.S 2: 186). Bahkan Hadis secara tegas menyebutkan bahwa doa adalah otak dan inti ibadah. Maknanya adalah bahwa doa memiliki kekuatan dalam konteks ibadah. Atas dasar ini kemungkinan ibadah yang telah dilakukan selalu didoakan untuk diterima Allah. Boleh jadi, bahwa seseorang yang beribadah tetapi tidak pernah bermohon pada Allah untuk diterima amalnya akan menjadikan amal itu tidak diterima Allah.


Quraish Shihab memberikan tafsiran surah Al-Baqarah: 186, bahwa Allah begitu dekat kepada manusia dan manusiapun dekat kepada-Nya, karena pengetahuan tentang wujud Tuhan sangat melekat pada fitrahnya, bukti-bukti wujud dan keesaannyapun terbentang luas. Demikianlah, kedekatan manusia kepada Tuhan, terlebih lagi bagi hambanya yang tulus ikhlas, akan menjadikan peluang doanya menjadi terkabul. Andaipun tidak terkabul, pasti di dalamnya ada hikmah tersembunyi yang belum diketahui manusia.

Dalam kaitan ini, Ibn ‘Athaillah menegaskan bahwa “Janganlah kelambatan masa pemberian Tuhan kepadamu, padahal engkau bersungguh-sungguh dalam berdoa menyebabkan engkau patah harapan, sebab Allah telah menjamin menerima semua doa menurut apa yang ia kehendaki untukmu, bukan menurut kehendakmu dan pada waktu yang ditentukannya, bukan pada waktu yang engkau tentukan.

Statemen yang ditegaskan Ibn ‘Athaillah ingin menegaskan bahwa dalam berdoa seorang hamba dalam kondisi pasrah dan menyerahkan sepenuhnya permohonan kepada Allah. Dengan kata lain, berdoa tetapi tetap diiringi dengan sikap tawakkal yang penuh atas permohonan yang diinginkan. Oleh sebab itu, doa belum dikabulkan Allah swt dengan rentang waktu yang panjang maka tidak boleh berburuk sangka kepada Allah. Ibn ‘Athaillah menyatakan, “Jangan sampai meragukanmu, terhadap janji Allah, karena tidak terlaksanakannya apa yang telah dijanjikan itu.

Oleh sebab itu, sikap tawakkal akan membuat kita mampu menerima apapun keputusan Allah. Tawakkal akan membuat seseorang sampai pada sebuah kesimpulan, bahwa apa yang menimpanya adalah yang terbaik dari alternatif manapun yang tersedia. Bahwa seorang hamba meyakini di setiap keputusannya pasti ada hikmah dan pelajaran berharga dari Allah swt. Selanjutnya adalah upaya yang mesti dilakukan untuk terkabulnya doa terkait dengan amal yang dilakukan.

Dengan kata lain, usaha dan doa penting untuk menuai keberhasilan. Namun lebih dari itu semua, ketulusan dan keikhlasan jauh lebih penting untuk tetap dijaga di dalam jiwa. Artinya, seseorang yang bekerja dengan penuh keikhlasan, maka sesungguhnya ia sedang mencuri perhatian Allah swt. kepada dirinya. Jika kita telah berhasil “mencuri” perhatian Allah dengan cara mengorientasikan seluruh kerja semata-mata karena Allah. Oleh sebab itu, apa pun kondisi dan situasi yang dihadapi harus tetap menyandarkannya pada Allah dengan berdoa.

Kendati demikian, Allah menjelaskan dalam Hadis qudsi bahwa “mintalah kepadaku maka aku akan mengabulkannya dan kamu yakin bahwa doamu dikabulkan”. Hadis ini menjelaskan bahwa doa yang kita mohonkan kepada Allah harus diiringi dengan keyakinan yang kuat bahwa doa dikabulkan Allah. Oleh sebab itu, Rasul menegaskan bahwa “Allah tidak menerima doa dari hati yang lalai”. Sebenarnya hadis kedua ini adalah penjelasan kebalikan dari hadis sebelumnya bahwa doa yang berasal dari hati seorang hamba yang lalai, ragu, dan tidak yakin akan dikabulkan Allah maka kemakbulan doa pun akan jauh dari harapan. Setidaknya, para ulama membuat rumusan dalam berdoa:

  1. Waktu. Waktu istimewa untuk memanjatkan do’a adalah antara lain waktu sahur, antara azan dan qamat, dan setelah bacaan tasyahud akhir sebelum salam;
  2. Do’a dengan mengangkat tangan penuh harap dan kesungguhan. Hadapkan wajah ke arah qiblat. Setelah selesai do’a;
  3. Mengawalinya dengan memuji Allah, bershalawat kepada Rasul. Selanjutnya baru menyampaikan isi do’a;
  4. Gunakan bahasa yang lembut dan penuh harapan. Adalah baik jika permintaan diulang sebanyak tiga kali;
  5. Keyakinan dalam hati akan dikabulkan, dan menghindari keraguan dan su’u zhon akan kabulnya doa.


Melihat uraian di atas, maka doa menjadi senjata ampuh yang kita hajatkan kepada Allah dalam berbagai persoalan kehidupan di dunia ini. Suatu keyakinan yang kuat bahwa musibah ini akan berlalu dan berakhir namun dengan doa yang diiringi dengan keyakinan yang sempurna akan lebih mempercepat harapan bahwa Covid 19 lebih cepat berakhirnya, amin.

Wallahua'lam Bisshoab...

Editor: Aziz AR Panjaitan

Sumber: Kiriman Dr.Watni Marpaung,MA

T#gs
Berita Terkait
FB Comments