“Masjid di Hati Setiap Insan – Dari Masjid Membangun Ummat”

“Dana Ummat Jadi Pilar Utama Untuk Menopang Perekonomian dan Kesejahteraan Ummat”

TAUSIAH USTADZ DR.WATNI MARPAUNG,M.A

Kajian Tassawuf Al Hikam

Eddy H Tambunan Kamis, 27 Februari 2020 18:45 WIB
Eddy H Tambunan




1. SAKSIKAN AMAL DENGAN PANDANGAN RIYA.
* Tidak Pernah Merasa Puas .
* Pangkal segala maksiat adalah kepuasan diri,dan pangkal ke taatan tidak pernah puas dengan kondisi diri.
* Murid memuji Arif,karena lamanya beramal.
* Rosulullah Istiqhfar.
* Hasan Al Basri,seandainya dua rakaat benar benar khusyu,sudah cukup bagiku.

2. SAKSIKAN AMALAN DENGAN PENGAKUAN.
*Abdul Qodir Jaelani: Sampai kepada Allah bukan karena Shalat, puasa, tetapi sifat mulia, tawadhu’ dan kesucian diri.
*Bahauddin Naqsabandi: pertama,seandainya salik sampai kemana pun merasa pertama kali,kedua,meskipun telah dapat maqam tertinggi tetap merasakan diri lebih jelek 100 X dari Fir’aun.


“MAN TAHAQQOQO BIL UBUDIYYAH NAZHARA A’MALAHU BIAINIRRIYA,WA AHWALAHU BIANI DAKWA,WA AQWALAHU BIANI AL IFTIRA“

Artinya: Jika engkau ingin menjadi sebenar benar hamba,saksikan amalmu dengan pandangan riya,saksikan ahwalmu dengan pandangan pengakuan,dan saksikan ucapanmu dengan pandangan dusta.

3. SAKSIKAN UCAPAN SEBAGAI DUSTA:
* Menafikkan Ucapan
* Sifat Kehambaan Keluar dari sifat-sifat Kemanusiaan.



INTISARI TAUSIAH:
"MAN TAHAQQOQO BIL UBUDIYYAH NAZHARA A’MALAHU BIAINIRRIYA,WA AHWALAHU BIANI DAKWA,WA AQWALAHU BIANI AL IFTIRA"

Artinya: Jika engkau ingin menjadi sebenar benar hamba,saksikan amalmu dengan pandangan riya,saksikan ahwalmu dengan pandangan pengakuan,dan saksikan ucapanmu dengan pandangan dusta.

Ada tiga dalam kajian kita kali ini yang bisa disimak, yaitu:


1. SAKSIKAN AMAL DENGAN PANDANGAN RIYA

Bukan maksud kaji kita ber amal riya, tapi segala amal ibadah yang kita lakukan,sholat,puasa,mengaji,zakat,infak.Apapun itu, tetap dia melihat amal itu, ada unsur riya disana, sehingga orang yang menyaksikan amalnya itu ada,masih ada unsur riya,walaupun dia berusaha lillahitalalah,sehingga efeknya bertambah, dia tidak pernah merasa puas dengan amalnya.

“Kalau ada orang beramal sudah puas dengan amalnya,itu selesai,itu bermasalah. Kalau ada orang mengganggap sholatnya tetap dilakukannya sudah khusyuk betul,berarti dia sudah bermasalah dalam sholatnya.kalau ada orang mengganggap bahwa puasanya sudah paten betul, puas betul, maka saat itu amalnya telah bermasalah”

Maka makna saksikan amalmu dengan pandangan riya,dia bukan ingin dilihat orang,tidak..!?,tapi dia masih melihat amal amal ini,amal yang dia lakukan,dia terus berusaha,dia terus menjagakan,untuk menjadikan amanlanya sebenar benar iklas dan menamfikan riya,walaupun tetap dia mendapatkan ada sedikit unsur riya.

“Bapak ibu yang di muliakan Allah”,saya ingin menyebut misalnya begini”Kita beramal inikan semua berproses,semua amalan yang kita lakukan,inikan awalnya kan dipaksa. dipaksa.

Coba kita tanya ini jujur,Sholat subuh berjamaa ke mesjid, berat atau ringan ? beratkan,kalau ringansunyi mesjid ini.Cuman,semua amalan yang kita lakukan ini,itu awalnya dipaksa.Tapi ituperilaku pada semua amal.Ini mau kita kait kaitkan berusaha untuk itu.

Kalau ada orang, tak berusaha maksimal,tak dipaksakannya dia bangun malam tahajjud,tak dipaksakanya sampai mati tidak sholat tahajjud,itu kesimpulan.

Kalau adaorang tidak dipaksakannyasholatsubuhberjamaakemesjidbangun..!? bahasanya sampai mati tidak sholat subuh ke mesjid.Awal dipaksa,begitu dipaksakannya maka ada yang menghitung,40 (empat puluh hari) hari itu angka sikrun,itu angka rahasia.Sampai ada orang,kalau ada orang 40 hari dia sholat berjamaah,itu besar kemungkinan tak tinggal sholatnya.

Kalau ada orang 40 (empat puluh hari ) tak tinggal tinggal sholatnya,itu kemungkinan diduga kuat,dia takkan tinggal sholatnya.

Mengapa..!? walaupun awalnya di paksa… dipaksa,akhirnya setelah 40 (empat puluh hari)sholat itu menjadi kebutuhannya,dia kecarian dengan sholatnya itu.

Ini yang kita sebutkan tadi, orang yang melihat amal nya,amalnya itu tidak pernah selesai, tidak pernah sempurna.Dia masih melihat ada unsur riya,sehingga dia setiap saat memperbaiki amal-amal yang dialaminya.

Quran mengatakan ”ya ayulazina amanu…", minta tolong pada Allah,dengan dua saja yaitu dengan (Fis-sobri Sabar Was-sholah)

Cuma, maqom sholat kita,dan ada orang yang mengatakan,aku sudah tuntas ini ,sudah finis ini.sampai sampai ada yang mengatakan lagi.bapak tak sholat..?tidak..! kenapa tak sholat,maqomku sudah sampai.ini kita membanding dengan yang tadi.

Ini kita coba banding dg diri kita.Ada seorang ulama,mau di amputasi kakinya,kata dokter pak di bius,kata ulama itu tidak..!,sholat aku,waktu sholat itu,amputasi kakiku,tak usah kau bius,tak usah bius begitu sholat si ulama tadi,diwaktu sholat itulah diamputasi kakinya.

Dan seolah olah dia tak merasakan sedikitpun kakinya di amputasi ketika dia sholat itu.Coba bayangkan..!?pontang pantingkan maqom sholatnya entah dimana baitnya. Sehingga begitu dia takbir,seolah olah dia masuk ke alam lain,dan tak merasakan lagi hiruk pikuk yang ada di sekelilingnya,bukan hanya hiruk pikuk,dipotongpun kakiknya sudah tidak terasa lagi,sampai tidur.Sangkin menyatunya dia dengan roh yang di sembah.Persoalannya bagaimana tingkat maqom sholatnya itu,…..maka sholat itu luar biasa.Maka kalau ada org mengatakan sudah tuntas sholatku,saat itu telah selesailah amal orang itu,dia menggangap sempurna dan amalan orang itu.

Pangkal segala maksiat adalah kepuasan diri,dan pangkal ke taatan tidak pernah puas dengan kondisi diri.

Ada orang berzikir semakin berzikir dia semakin tak puas,semakin ingin di tambah ,saat dia terus meningkatkan tak pernah puas,di situlah sebenarnya kedekatannya dan kesempurnaan amalnya,kalau dianggapnya selesai dianggapnya sempurna,rusaklah.

Makanya kata rosulullah, siapa yang sholat,assalamualaiku…assalamualaikum muncul dalam hatinya,paten betul sholatku kali ini.Cepat sholat sungguh sugguh,begitu dia sebutkan itu rusaklah sholatnya.

Maka ini mujahada semua,siapa orang orang yang mujahada terus berusaha mendekat padaku terus tak per berhenti,kami akan tunjuki bimbing mereka Sulat,banyak jalan kami kasih mereka.

Tapi…! Begitu dia tidak ber iktiar lagi, mujahada lagi,dipadakannya,berhenti ,staknan dia, maka saat itu berhentilah,maka binasalah dia dengan amal amal yang dia lakukan.

Rosulullah itu apa pentingnya,maka rosululah dalam riwayat dan hadis,begitu habis sholat tetap istiqfar.Astagfirullah…astagfirullah,rosulullah kekasih Allah jaminannya sorga.Sholat itu begitu khsyuknya sesuai maqomnya,namaun begitu selesai sholat tetap rosulullah Istiqfar.

Jangan sempat ketika habis sholat muncul kesombongan,amal dalam sholat kalau ada muncul kata kata dalam sholat,di sempurnakan Allah. Ini artinya Rosullulah, tidak pernah puas dan mengganggap sempurna amal yang dialakukan.Maknanya,Tapi bagi kita,untuk menundukkan, merendahkan amal yang kita lakukan dihadapan Allah swt.


2. SAKSIKAN AMALAN DENGAN PENGAKUAN

Ada seorang murid Abdul Khodir Jaelani,memuji murid siang hari,hari ini seorang sufi arifin murid ini memuji murid ini.Tuan hebat rukut tuan,lama betul,hebat sujud tuan,hebat zikir tuan.

Lalu Syech Abdul Khodir Jaelani mengatakan: “ Wahai murid muridku, jangan pernah kalian tertipu,dengan amalyang kalian lihat dalam pandangan johirmu”.
Karena: Iblis itu 800.000 tahun sujud,tunduk,nampak.Tapi akhirnya menjadi mahluk Allah yang menentang Allah Swt.

Maka segala yang kita lakukan kata Abdul Khodir,itu adalah bentuk ketundukan dan ke tawadukan kepada Allah Swt.bhatinya terbentuk pada Allah.

Sampai Hasan Al Basri, Salah satu Ulama Sufi besar :Seandainya 2(dua) Ra’kaat sholat yang aku lakukan tapi benar benar khusyuk , sebenar benarnya Khusyuk,itu sudah cukup bagiku.

Artinya Hasan Al Basri ingin katakan walaupun kita berusaha untuk khusyuk, Iklas,tapi tak pernah dapat 100 % (seratus persen)hakikat khusyuk.
Karena Amalan kita ini harus terus menerus di perbaikidan di tingkatkan maka tak berhenti belajar,dari tiang ayunan sampai liang lahat.

Dalam bhatinya, tetap tersisih bahwa amal yang dia lakukan belum total khusyuk dan iklas pada allah,sehingga dia terus mujahadaberusah pada Allah,sehingga dia tidak mengganggap selesai amal yang dia lakukan.Bukan riya,Amal ini terus di perbaiki terus di perbaiki terus di tingkatkan dan tak berhenti dia belajar.

Kalau ada orang tak mau lagi dia belajar,saat itu selesailah.makanya kajian belajar ini mulai dari tiang ayunan sampai liang lahat.Apakah belajar rame rame atau sendiri, ini kepuasan diri.

Sama dengan gajah ,itu testimoni orang sikologi,gajah kuat,di rantai gajah itu,empat kakinya di rantai,berusaha dia ,berontak dia ,tak bisa ,setahun dia berontak, akhirnya putus asa,pasrah sampai mati disini lah aku..

Begitu dia sudah putus asa ,dan tak ada kepengen keluar lagi,dilepas rantai tadi di ganti pakai tali plastik.padahal kalau di sepakkannya ,putus tali plastik itu.
Tapi hatinya,semangatnya tak ada lagi,dia pun tetap di situ tebodoh saja tak mau keluar lagi.

Sama begitu seseorang sudah sampai maqomnya,maka saat dia tak naik lagi, karena mengganggap sudah cukup dengan amalnya.

* Kata Abdul Khodir Jaelani:Yang menyampaikanmu kepada Allah,iniAbdul Khodir Gelarnya dalam kajian tasawuf SULLTONUL AULIA’itu sepakat para Ulama,nawawi”, mengatakan SULLTONUL AULIA,SULTANNYA PARA WALI ALLAH.

Kalau ada Wali Allah ribuan di dunia ini, Sultannya, Rajanya para Wali ALLAH adalah Abdul Khodir Jaelani dan beliaulah yang banyak kitabnya.

Dia mengatakan,sampainya seorang hamba pada Allah,Itu bukanlah karena banyaknya Sholatmu,Banyaknya Puasamu,banyaknya Zakatmu.banyaknya Zikirmu.

Tetapi karena: Sifat muliamu,Tawaduknya bhatinmu,dan kesucian diri dan Hatimu.

Nah.kaji kajian hal seperti ini yang salah tangkap,kalau begini tak perlu rupanya sholat lagi .

Banyak kita lihat : Ada orang,sholat,puasa,zakat,zikir,Tapi Hatinya Sombong,Suka menghinakan Orang,merendahkan dan mengganggap Amalan orang lain tidak benar.

Nazoro ahwalahu,ahwal itu..? maqom posisi status dalam kajian bhatinmu. Dia menyaksikan ahwal,ahwalmu posisi maqom dalam dengan kondisi bhatinmu

Bahauddin Naqsabandi Pendiri Tarikat nagsabandia,mengatakan :pertama seseorangg itu jika ingin bhatinya hatinya baik.: 2(dua) dikataakan nagsabandia):
1.Seandainya si salaim seorang yang sulup ingin dekat pada Allah,kemanapun pertama kali dia pergi,kemanapun dia berada ,kemanapun dia ber ibadah,tetaplah dia merasakan bahwa itu pertama kali dia lakukan.

Walaupun maqomnya tinggi,seribu kali dia puasa, ber infak,seribu kali berzakat, seribu, tetaplah dia seolah olah baru pertama kali melakukannya.

2.Meskipun maqomnya tertinggi:Tetap dalam bhatinmu lebih jelek,100 X seratus kali lebih jelek dari Firaun,lebih rendah dari Firaun.
Jangan pernah kita bhatin kita lebih mengganggap mulia maqomnya lebih tinggi dari orang lain,jadi merendah kan bhatin.


3. SAKSIKAN UCAPAN SEBAGAI DUSTA

Saksikan ucapanmu sebagai dusta: kita yang ceramah,yang menyampaikan kebaikan nasehat kepada anak dan sebagainya,menyampaikan kalimat kalimat kebaikan ,orang yang tadi ingin betul betul ibadahnya,menjadi hamba yang betul betul sejati.Tetap dia anggap ucapannya itu penuh dengan dusta.

Artinya : Bukan dibohonginya orang,bukan dibohonginya orang jadi kecewa,kalimatnya itu baik, tapi dia tetap merasa dalam hatinya ucapannya masih disekitari dengan dusta.

Kalau ucapannya itu belum turun menjadi amal-amalnya,ucapannya belum lagi dia lakukan disampaikannya pada orang.Atau ucapannya itu dia masih merasakan ucapannya itu kejelekan bukan sebuah kebaikan.

Untuk apa itu..!?supaya dia tidak pernah merasa bangga,dia tidak pernah merasa hebat,mulia dengan ucapanya.Dia tetap merasa biasa saja,yang disampaikan bukan fanatik pada orang lain,penuh dengan kejelekan dan kedustaan.

Point dari 3 (tiga) hal dari Ulama AL HIKAM ini: Maqom,Ucapan,Hati dan Perbuatan.

Semua perbuatan, semua ucapan, dan semua amalan hati kita, zikir kita,niat kita, adalah dalam kerangka untuk menghinakan diri kita pada allah,dan tidak pernah mengganggap itu semua sebagai sebuah kemuliaan dan kesombongan dihadapan Allah.

Jadi semua amalan yang kita lakukan,baik niat, amalan hati, amalan lisan,amalan perbuatan.Semuanya adalah anugerah Allah dan bukan sebuah keistimewaan, Kelebihan kita di hadapan Allah,Supaya amalan ini semata mata hanya untuk mengharapkan Ridho Allah.

Maka kata Musholli Al Hikam ini: Seorang yang benar- benar membuat dia menjadi hamba yang hakiki, itu lah orang yang dia sebut, bisa menjalani proses hisroknya Rosulullah .

Mengapa.!? karena Allah menyebut Nabi Muhammad ketika isra’ walmi’rajnya bukan dengan binabi atau birosuli tapi Subhanallazi asro bi’abdihi,Allah memperjalankan Nabi Muhammad itu dengan posisi status bi-‘abdihi, apa itu..!?dengan status Hamba,bukan Rosul ,bukan Nabi.Tapi di sebut dengan bi-‘abdihi/Hamba.

Maka orang yang tiga tadi kata,oleh sihalbagdad ini, jika maqomnya baik, hakikatnya maka diapun akan bisa menjalani proses isra’ walmi’raj yang di alami oleh Rosulullah.

Pensucian,mengkuduskan, (tanzi )mensucikan bhatin.Semakin dia dekat pada Allah ,maka tak ada jaraknya lagi pada Allah SWT.mudah mudahan ada manfaatnya,mudah mudahan ini mengetarkan bhatin kita,mana yang tak baik,mana yang bisa kita amalkan,untuk menjadi kita hakikotulabudiyah menjadi hamba yang hakiki dan ibadah yang hakiki.

Billahi taufik wal hidayah wassalmualaikum warahmatullahi wabarokatuh...
Editor: Aziz AR Panjaitan

Sumber: Rekaman saat Ceramah/Tausiah di Massjid Al Issyah Hakim

T#gs
Berita Terkait
FB Comments