“Masjid di Hati Setiap Insan – Dari Masjid Membangun Ummat”

“Dana Ummat Jadi Pilar Utama Untuk Menopang Perekonomian dan Kesejahteraan Ummat”

Tausiah Dr. H.M. Syukri Al Bani Nasution, M.A

SEPULUH TANYA JAWAB SEPUTAR ISLAM

Ustadz Juga Merupakan Sekretaris Umum MUI Kota Medan -- HP: 081397609662
Dr H M Syukri Albani Nasution MA Jumat, 24 April 2020 15:17 WIB
dokumen pribadi

Dr.H.M. Syukri Al Bani Nasution,M.A

SEPULUH PERTANYAAN ITU ADALAH:

1. MAQASHID MUDIK
2. HUKUM PELAKSANAAN SHOLAT BERJAMAAH DENGAN SHAF YANG TIDAK RAPAT DALAM SUASANA COVID 19
3. PELAKSANAAN SHOLAT BERJAMAAH MEMAKAI MASKER DALAM SUASANA COVID 19
4. ISLAM DAN & LINGKUNGAN
5. PUASA DAN KEMENANGAN
6. BAHAGIANYA MASYARAKAT MODERN
7. MENGISI KEHIDUPAN DENGAN ALQURAN
8. TAAT BERAGAMA, MEMBENCI DOSA
9. HUKUM MEMBACA QUNUT NAZILAH DALAM SHOLAT BERJAMAAH SECARA TERUS MENERUS
10. FALSAFAH MUSIBAH


1. MAQASHID MUDIK

PERTANYAAN:

Sejatinya menjelang hari raya mayoritas umat Islam mudik, namun tahun ini sudah sejak awal pemerintah melarang mudik. Sebenarnya apa hubungannya mudik dengan wabah Covid 19 ini. Terimakasih (Wulan Dayu - Medan Johor)


JAWABAN:

Mudik memang menjadi tradisi yang sangat menyentuh bagi semua umat Islam khususnya di Indonesia. Bahkan banyak orang yang mempersiapkan sejak awal mudiknya. Tradisi pulang kampung menjelang hari raya akan menjadi suasana haru tersendiri masyarakat.

Namun tahun 2020 ini menjadi ke-khususan bagi kita untuk menahan diri tidak mudik. Sebab beberapa hal yang menjadi alasan. Pertama upaya pencegahan (lokalisasi) penyebaran virus yang tidak meluas, hal ini menjadi illat (alasan kuat). Yang kedua upaya memusnahkan virus ini agar tidak merajalela. Yang ketiga alasan keterjagaan diri dari pengeluaran yang meningkat di saat suasana yang sulit ini.

Ada beberapa alasan kuat melalui pendekatan Maqashid Syariah. Setiap kepatuhan harus memiliki tujuan yang berpotensi membaikkan dan memberi keuntungan. Selain itu harus juga bertujuan menghindari kesulitan dan permasalahan. Maka salah satu tujuan kehidupan dan kepatuhan kita adalah memelihara diri (hifz Nafs). Memelihara diri ini harus dilihat sebagai upaya prefentif atau ikhtiyat (berhati-hati). Tidak memakai induktif reasioning, tapi menggunakan deduktif reasoning. Maka cukuplah alasan untuk tidak mudik demi menjaga diri (hifz nafs), dan orang yang menjaga diri akan menjaga agamanya (hifz- din). Orang yang menjaga agamanya akan pula menjaga keluarga dan hartanya (hifz nasab wal maal) sehingga terpenuhi-lah semua unsur tujuan dalam kehidupan dan kepatuhan.

Bersabarlah untuk tidak mudik. Kita dukung pemerintah dalam ikhtiyarnya memusnahkan covid 19 ini dengan terus berbaik sangka dan ikut serta berdoa bersungguh�"ungguh Allah keluarkan kita dari musibah ini. Bahagialah dirumah bersama keluarga. Bangun komunikasi lewat tekchnologi. Bantu bagi yang memiliki. Sehingga jalinan silaturrahim tidak terputus.

Semoga usaha (ikhtiyar) kita ini menjadi alasan bagi Allah untuk mengampuni semua dosa dan memakmurkan negeri kita ini (baldatun Thayyibatun warabbun ghafur)
Sesuai dengan Alquran Surah Al Baqarah ayat 195: “Dan belanjakanlah (harta bendamu) di jalan Allah, dan janganlah kamu menjatuhkan dirimu sendiri ke dalam kebinasaan, dan berbuat baiklah, karena sesungguhnya Allah menyukai orang-orang yang berbuat baik.” --- Wallahu a’lam



2. HUKUM PELAKSANAAN SHOLAT BERJAMAAH DENGAN SHAF YANG TIDAK RAPAT DALAM SUASANA COVID 19


PERTANYAAN:

Assalamualaikum Ustadz, jika dalam suasana covid 19 ini sesuai dengan anjuran pemerintah untuk phisyical distancing, maka ada beberapa masjid yang memutuskan untuk melaksanakan sholat berjamaah dengan merenggangkan shaf. Apakah hukumnya ustadz (Safwan Buchari - Sukaramai)


JAWABAN:

Kita harus terus berdoa dengan bersungguh-sungguh agar kiranya Allah segera mengangkat musibah khususnya Covid 19 ini dari Indonesia, ini bagian dari ujian yang harus mampu kita mengambil hikmahnya.

Berkaitan dengan anjuran phisyical distancing oleh pemerintah, lalu diterjemahkan di masjid-masjid dengan merenggangkan shaf seumpama lebarnya sajadah maka hukumnya sah, namun makruh dan mengurangi pahala berjamaah . beberapa dalil yang menguatkan pandangan tersebut Pendapat Syekh Jamaluddin Muhammad bin Abdurrahman bin Hasan bin Abdul Bari al-Ahdal dalam “Umdat al-Mufti wa al-Mustafti, juz I, hlm. 132: ““Dan tidak makruh shalat di antara tiang-tiang, sebagaimana dinyatakan Ibn Hajar dalam kitab Al- I’ab”

Pendapat Muhammad Bakri Ismail dalam al-Fiqh al-Wadhih min al-Kitab wa as-Sunnah ala al- Mazahib al-Arba’ah, jilid I, hlm 214: ““Dimakruhkan membuat shaf di antara tiang-tiang tanpa darurat, karena adanya tiang-tiang di atara shaf memutuskan shaf”.

Pendapat Syekh Sulaiman bin Muhammad bin Umar al-Bujairmi dalam Hasyiyah al-Bujairmi ala al- Khatib, juz II, hlm. 136 : “Akan tetapi dalam Fatawa Ibn Ramli, bahwa shaf-shaf yang terputus masih mendapatkan fadilah berjamaah bukan fadilah shaf awal, dan dinukil juga hal semacam itu dari al-Manawi dan Syeikh al- Islam”
Namun, pedoman kita juga disebabkan adanya keadaan yang dianggap dharurat sesuai dengan keputusan pemerintah (ulil amri) yang juga kita harus taat atasnya. Oleh sebab itu, jika keadaan sudah kembali normal maka semua sifat dan keadaan sholat harus mengikut pada yang shahih dan afdhol sesuai dengan panduan Alqura, Sunnah dan Para Ulama. Hal ini juga sesuai dengan Pandangan Komisi Fatwa MUI Sumut Nomor 07/DP-PII/TS/IV/2020. Wallahu a’lam


3. PELAKSANAAN SHOLAT BERJAMAAH MEMAKAI MASKER DALAM SUASANA COVID 19

PERTANYAAN:

Assalamualaikum Ustadz, jika dalam suasana himbauan pemerintah tentang covid 19 ini untuk berhati hati, menjaga protocol kesehatan termasuk di masjid, maka apa hukumnya melaksanakan sholat memakai masker ya, terimakasih (Fadhil di - Medan Johor)



JAWABAN:

Sesungguhnya sholat harus menyempurnakan rukun dan syarat yang sudah ditentukan oleh ulama berdasarkan Alquran dan Sunnah yang mereka kaji dan pahami. Kesempurnaan pelaksanaan sholat dalam pendekatan fiqh akan menentukan sah atau tidaknya sholat yang kita laksanakan.

Namun dalam suasana yang dharurat seperti saat ini, kita harus mengikuti anjuran para ahli dalam hal ini Pemerintah (ulil Amri), sebab ketaatan kita pada anjuran dan keputudan pemerintah bagian dari nilai keimanan kita dihadapan Allah Swt (Q.S An Nisa’ ayat 59)

Berkaitan dengan hukum memakai masker pada saat sholat, khususnya kesempurnaan dalam sujud. Pendapat Imam Abdurrahman bin Muhammad ‘Audh al-Jaziri dalam al-Fiqh Ala al- Mazahib al- Arba’ah, juz I, hlm. 219 , artinya “Tidak mengapa meletakkan dahi atas sesuatu yang dipakai atau dibawa namun ia bergeser karena pergerakan orang yang shalat, namun menurut tiga mazhab [Hanafi, Maliki dan Hanbali] sepakat hukumnya makruh, berbeda dengan mazhab Syafi’i.

Menurut mazhab Syafi’i disyaratkan dalam sujud tidak meletakkan dahi di atas hal-hal tersebut (sesuatu yang dipakai atau sesuatu yang dibawa, jika ia bergeser karena pergerakan orang yang shalat) jika dilakukan, batal shalatnya, kecuali( jika sesuatu itu) panjang yang mana tidak bergeser benda itu disebabkan pergerakan orang yang shalat, sebagaimana tidak batal shalat orang yang sujud di atas sapu tangan, karena ia dihukumkan terpisah dari orang yang shalat”.

Pendapat Imam an-Nawawi dalam Majmu’ Syarh al-Muhazzab, juz III, hlm. 427 : “Dan jika seseorang sujud di atas dahinya tapi hidungnya tidak menempel, maka hukumnya makruh yang demikian itu baginya, akan tetapi shalatnya, sah.”. senada juga dengan beberapa pendapat imam lainnya seperti Pendapat Imam Abdurrahman bin Muhammad ‘Audh al-Jaziri dalam al-Fiqh Ala Mazahib al-Arba’ah, juz I, hlm. 219

Oleh sebab itu, maka hukumnya boleh, disebabkan tidak ada dalil yang membatalkannya, ditambah lagi memakai masker dalam shalat tidak dalam bentuk kesengajaan tanpa alasan (illat). Sebab menjaga dan mencegah (ikhtiyat) maka hukumnya boleh (mubah) (bias juga dilihat dalam pandangan Komisi Fatwa MUI Sumut Nomor : 07/DP-PII/TS/IV/2020. Wallahu a’lam


4. ISLAM DAN & LINGKUNGAN

PERTANYAAN:

Bagaimana menumbuhkan sikap dan paham bahwa Islam bukan hanya mengatur masalah ibadah, tapi Islam juga peduli masalah social seperti lingkungan, sebab kehidupan social terus berubah dan membutuhkan kebenaran. (Rukiah Nur Badri - Medan Denai)


JAWABAN:

Islam tidak hanya mengatur ibadah yang mahdhah, Islam juga mengatur ibadah ghairu mahdhah. Islam pedulia terhadap nilai-nilai sosial. Islam mengatur ritme kehidupan sosial umatnya melalui banyak aspek. Yang jelas, islam tidak bergerak dalam ruang ritualitas saja, islam juga mengatur hubungan mu’amalah bil ma’ruf (hub sosial dengan jalan yang baik).

Dari pendekatan historis-sosiologis, banyak sejarah kehidupan Rasul dan para sahabat yang juga melibatkan aspek lingkungan. Salah satunya dalam perjanjian perang, bahwa dalam peperangan tidak boleh ada yang merusak tanaman, pepohonan. Dari perspektif qurani, bahwa Alquran bukan hanya membincang hukum dan sosial. Dalam Alquran juga banyak ayat-ayat Kauniyah yang di dalamnya membincang tentang alam dan lingkungan.

Sebab itu, perhatian kita seharusnya beralih dari sesuatu yang mahdhah belaka dengan pendekatan ke-akhiratan, menuju pada aspek-aspek ghairu mahdhah yang lebih sosialis dan me-masyarakat. Islam yang hidup di tengah-tengah kehidupan realistis masyarakat. Islam yang manusiawi, islam yang membumi. Inilah yang harus menjadi analisis lebih jauh para pakar hukum Islam.

Setidaknya ada dua pendekatan yang bisa kita lihat untuk menbumbuhkan kemauan yang kuat peduli terhadap lingkungan. Pertama, menggeser paradigma ubudiyah, dari sesuatu yang sakral �"ukhrowi, menuju ibadah yang humanis-ukhrowi. Menggeser cara pandangan masyarakat untuk melihat ibadah hanya sesuatu yang ritualis dan pendekatannya ukhrowi belaka seperti sholat, puasa, i’tikah, zikir dll. menuju ibadah sebagai kehidupan fungsional interaksi masyarakat.

Kedua, mengubah paradigma mubah menjadi sunnah. Dalam pendekatan sosiologis, manusia itu makhluk fungsional. Semua interaksi sosialnya harus berfungsi langsung pada kebutuhannya. Mengapa manusia mau masuk toilet, sebab ingin melaksanakan fungsinya, mandi dll. manusia sulit berhasil melaksanakan aktivitas yang “hampa fungsi”. Selama manusia itu berakal, maka dia akan mencari ruang gerak fungsional dalam kehidupannya.

Pendekatan cara pandang inilah yang menjadi asumsi dasar mengapa manusia jarang memilih sesuatu yang mubah menjadi instrument hidupnya. Dalam pendekatan fungsional keislaman, pasti pemeluknya akan cenderung melaksanakan ibadah dan kehidupan yang bermakna (melaksanakan yang wajib dan sunnah, meninggalkan yang haram dan makruh). Sebab hitungh-hitungannya jelas. Berpahala- berdosa. Itulah menjadi alasan banyak orang yang mulai meninggalkan rutinitas sosial sebagai ibadah, dan lebih memilih ritualitas mahdhah saja. Ruang sadar ini-lah yang harus di rubah.

Bagaimana menggeser sesuatu yang mubah (hampa hukum) atau sering disebut boleh menjadi sunat (baik dilaksanakan). Caranya dengan merubah niat, merubah motivasi, merubah visi dengan memberi akses luas terhadap kepentingan pribadi dan sosial.

Gambaran sederhananya bisa kita dapatkan melalui makan. Seorang yang makan dengan membaca doa makan, dengan seseorang yang makan berdoa “ya Allah jadikanlah makan ku ini sebagai kekuatan bagiku agar aku tegar dan kuat bekerja untuk menhidupi anak istriku”.

Ada seseorang yang berhasil mengintegrasi makan sebagai perbuatan yang mubah, menjaidi perbuatan yang sunat. Sebab bekerja-menghidupi anak istri, itu hukumnya sunat muakkad mendekati wajib. Keselarasan niat dengan perbuatan akan melahirkan energi hebat (the power of god) yang membuat orang tersebut akan kreatif dan termotivasi mencari nafkah keluarganya. Wallahu a’lam


5. PUASA DAN KEMENANGAN

PERTANYAAN:

Selalu saja para ustadz menyebut bahwa bagi orang orang yang berpuasa aka meraih kemanangan. kemenangan dalam bentuk apakah itu, sementara semakin tahun harga-harga semakin meningkat, dan rezki tidak kunjung bertambah (Akhyar Hidayat - Medan Denai)


JAWABAN:

Puasa itu untuk-Ku, dan Aku-lah yang membalasnya.” Begitulah penegasan Allah SWT tentang besarnya pahala bagi orang yang berpuasa, sebagaimana disampaikan Rasulullah SAW dalam Sahih Bukhari.

Puasa berarti menahan; baik menahan makan, minum, bicara, dan perbuatan. Secara terminologi, puasa berarti menahan dari hal-hal yang membatalkan dengan disertai niat berpuasa. Sebagian ulama mendefinisikan puasa adalah menahan nafsu dua anggota badan ,perut dan alat kelamin,sehari penuh, sejak terbitnya fajar, hingga terbenamnya matahari.

Maka kemenangan orang yang berpuasa itu justru mampu menahan lapar dan dahaga-nya. Berpuasa bukan dari yang haram saja, namun berpuasa dari yang halal. Melepas ketergantungan konsumtifitas keseharian. Sehingga karakter yang terbentuk adalah karakter orang yang sabar. Dan bahagian dengan kesabarannya. Bukan tersiksa dengan kesabarannya.

Seperti yang ditegaskan dalam QS Al Baqarah ayat 183 “Hai orang-orang yang beriman, diwajibkan atas kamu berpuasa sebagaimana diwajibkan atas orang-orang sebelum kalian agar kamu bertakwa “ takwa sebagai hadiah bagi orang orang yang berpuasa dan ber amal shaleh akan menjadi ukuran yang besar untuk menilai kemenangan.

Sebab kemenangan orang berpuasa itu setidaknya bias terlihat dari keluarnya diri dari sekat konsumtif, tidak berlebih-lebihan. Energik berbagi, dan semakin bahagia. Alat ukur bahagia bukan hanya ketika memiliki, tapi juga bahagia pada saat kelihatan sulit dan penuh ujian.

Setidaknya, jika kita harus mengukur kemenangan orang- orang yang berpuasa, maka ditemukan lima hal. Pertama, Kemenangan Atas Nafsu, Kedua, Kemenangan Atas Setan, Ketiga, Pahala Dilipatgandakan, Keempat, Dosa-Dosa Diampuni, Kelima, Doa-doa Dikabulkan.

Maka isilah Ramadhan ini dengan sebaik baik amal, sebaik baik prilaku. Sedekah yang terbaik, kemaafan yang tinggi, kesabaran yang mulia, waktu yang tidak sia sia sehingg wujud kebaikan tidak hanya muncul hari-per hari tapi sudh terhitung dri detik per detik. Wallahu a’lam


6. BAHAGIANYA MASYARAKAT MODERN


PERTANYAAN:

Salah satu keberuntungan orang-orang yang berpuasa adalah mampu menjadikan waktunya sebagai amal-kebaikan sehingga di tengah kesibukannya tetap ada nilai amal yang ia dapatkan, bagaimana caranya agar ditengah kesibukan kita tetap mampu menjadikan semua aktivitas sebagai amal shaleh (Rukiah Nur Badri Nst- Medan Denai)


JAWABAN:

Modernitas membuat manusia sangat individualis dalam kehidupannya. Individualisme melahirkan pola berfikir fungsional, (dalam teori kefilsafatan disebut Utilitarianisme). Semua hal dilakukan, dipatuhi karena ada manfaatnya. Inilah yang menjadi rutinitas manusia modern.
Di sisi lain, dalam Islam, kita dituntut untuk menyelaraskan kehidupan duniawi dan ukhrowi, sering disebut dalam Ilmu Tasawuf dengan Hablun Minallah, Hablun Minannaas. Bagaimana mereduksi prilaku duniawi menjadi investasi akhirat, menjadi tuntunan kehidupan manusia beriman. Diperlukan kepekaan yang besar danlam menjalani kehidupan untuk menjadikan prilaku menjadi ibadah.
Kesannya, manusia modern sering mengalpakan diri dari nilai-nilai ukhrowi. Sebab, pemahaman keakhiratan tidak instan bermain dalam kehidupan. Keluh kesah manusia tentang ketaatannya tidak berbanding dengan rezki Allah menjadi titik sandaran mengapa manusia mulai memisahkan duniawinya dengan nilai-nilai keimanan dan ketakwaan (kepatuhan terhadap perintah Allah).
Ciri lain manusia modern, terbiasa menghadapi masalah besar. Tolak ukurnya ekonomi dan kesejahteraan. Perkembangan kehidupan social sering di ukur dengan kekuatan ekonomi. Nilai materialis menjadi symbol terhadap kebahagiaan manusia modern. Inilah salah satu sebab mengapa manusia modern mulai meninggalkan agamanya.

Beberapa kebahagiaan manusia Modern:
1. Orang yang bahagia dengan keimanannya adalah orang yang di tengah kesibukan duniawinya ia memiliki waktu untuk sholat berjamaah. Konsistensi sholat berjamaah di masjid menjadi symbol awal konsistensi keseriuasan dalam menapaki keimanan kepada Allah. Meski belum tentu orang yang tidak sholat berjamaah itu bukan orang beriman, namun, member indikasi konsistensi keberimanan bisa di mulai dari ketaatan sholat berjamaah di masjid. Sebab sholat berjamaah di masjid menjadi symbol duniawi tentang ketaatan manusia kepada Allah sebagai Tuhannya;

2. Orang yang bahagia dengan keimanannya adalah orang yang di tengah kesibukannya ia di beri hidayah oleh Allah untuk tertarik dan membiasakan diri membaca dan memahami Alquran. Jangan marah jika disebut bahwa orang modern sulit memiliki waktu membaca, memahami Alquran, maka membaca Alquran akan menjadi kebahagiaan tersendiri orang-orang modern;

3. Orang yang bahagia dengan keimananya adalah orang yang di tengah kesibukannya memiliki waktu untuk ber I’tikaf di masjid. Mampukah kita menyisihkan waktu untuk sekedar berdiam diri setelah sholat, introspeksi diri, menyusun kekuatan kembali, bermunajat kepada Allah, mengembalikan semua potensi kepada Allah, berdoa dan memohon ampun atas kekhilafan yang dilakukan;
4. Orang yang bahagia dengan keimanannya adalah orang yang dengan rezkinya ia memiliki kelapangan untuk bershadaqah. Pegiat ekonomi menyarankan investasi sebagai kehidupan masa depan. Dalam Islam, investasi terbesar manusia di dunia dan akhirat adalah shadaqah. Shadaqah bukan hanya diberikan pahala oleh Allah sebagai investasi akhirat, tapi shadaqah memiliki efek besar terhadap rezki duniawi;
5. Orang yang bahagia dengan keimananya adalah orang yang dalam kehidupan konsumerisme ini, ia mampu berpuasa. Indikator lainnya tentang kebahagiaan itu adalah gemar berpuasa. Berpuasa tidak hanya member efek akhirat saja (pahala), namun puasa juga menjadi pelatihan dasar tentang kesabaran, tentang menahan amarah. Orang yang berpuasa biasanya sudah terlatih tentang kesabaran. Sehingga berpuasa menjadi pelatihan kolektif bagi manusia di tengah kehidupan modern ini.

Wallahu a'lam...


7. MENGISI KEHIDUPAN DENGAN ALQURAN

PERTANYAAN:

Mengapa salah satu amalan yang sangat disunnahkan di Bulan Ramadhan adalah membaca Alquran. (Rukiah Nur Badri - Medan Denai)


JAWABAN:

Kepada Kitab-kitab tersebut tidak ada keraguan padanya, dan akan menjadi petunjuk bagi orang orang yang bertaqwa (Q.S.Albaqarah;2)
Ada beberapa pendekatan untuk memaknai Al-Quran di tengah-tengah umat Islam jika kita meminjam ulasan Quraish Shihab dalam Membumikan Alquran. Pertama, Al-Quran digunakan dengan pendekatan Mymical Reading. Al-Quran menjadi sarana bacaan bagi umat Islam dan memberikan suasana supra rasional bagi siapa saja yang membacanya. Bagi masyarakat awam, dengan membaca Al-Quran saja, sudah memberikan nilai tersendiri bagi kedamaian dan ketenangan diri dan jiwa.

Kedua, dengan pendekatan Mystical Reading, yaitu memahami Alquran dengan nuansa yang bisa melahirkan harapan. Dengan pemahaman ini pula banyak orang yang mengamalkan ayat dan Surat-Surat tertentu untuk mendapatkan sesuatu, atau meraih sesuatu. Ini juga membuktikan bahwa Al-Quran menjadi sarana lain dari masyarakat sebagai perantara kepada Allah untuk mendapatkannya.

Ketiga, dengan pendekatan Analytical Reading. Melalui pendekatan inilah seharusnya umat Islam bisa merasakan secara utuh betapa Al-Quran menjadi Hudaan (petunjuk) bagi semua manusia. Dengan segala pemahamannya dan pemaknaannya, baik yang muhkam maupun mutasyabih. Penggalian Al-Quran dengan mempelajarinya, menganalisa akan mengantarkan umat Islam sampai pada tujuan Islam itu sendiri.

Umat Islam seharusnya menjadikan Al Qur`an penting dalam kehidupan bukan terikat waktu, terikat keadaan tertentu dan terikat hal hal yang sifatnya kondisional. Berakrab diri dengan Al Qur`an akan secara otomatis memberikan nilai yang tidak dapat diteorikan lewat kalimat ilmiah sekalipun. Ketenangan hati, kesejukan jiwa, kekuatan bathin, keoptimisan hidup, dan beragam keadaan lainnya akan menyertai hidup manakala telah menjadikan Al Qur`an penting dalam kehidupan.

Selanjutnya Allah juga dalam ayat lain memberi tantangan terhadap siapa saja yang bisa membuat semisal Al Qur`an “ Dan jika kamu berada dalam keragu-raguan tentang Al Qur`an yang telah kami turunkan kepada hambaKu Muhammad, maka buat saja satu surat yang sama persis dengannya dan ajaklah teman temanmu selain Allah, jika memang kamu adalah orang orang yang benar “(QS Al Baqarah 23). Dalam ayat ini justru Allah memberi tantangan bagi orang yang merasa “ ragu” terhadap keautentikan Al Qur`an. oleh karenanya, orang yang masih malas dan susah untuk dekat dan akrab dengan Al Qur`an berarti memberi indikasi “ ragu” terhadap Al Qur`an. tantangan tersebut seharusnya menjadi penguat bagi kamu muslimin untuk memaknai Al Qur`an dengan arti yang bisa mempengaruhi diri menuju kualitas kehambaan yang sempurna.

Sebab kemukjizatan Alquran yang sangat tinggi, maka dalam konsep apapun dan keadaan apapun Alquran akan mengisi dan menjawab semua persoalan manusia. Khususnya di Bulan Ramadhan anjuran membaca Alquran, setiap hurup bernilai lipayan kebaikan apalagi sampai mengkhatamkan Alquran. Semoga Allah memberi hikmah bias memahami dan mengamalkan Alquran. Wallahu a’lam


8. TAAT BERAGAMA, MEMBENCI DOSA

PERTANYAAN:

Apakah orang yang taat beragama akan mampu berbuat baik, setidaknya tidak berbuat jahat. Khususnya pada Bulan Ramadhan ini, harapannya bisa membentuk manusia yang takut dosa. Bagaimana pandangan ustaz tentang hal ini. (Rukiah Nur Badri - Medan Denai)


JAWABAN:

“Telah nampak kerusakan di darat dan di laut disebabkan Karena perbuatan tangan manusia, supaya Allah merasakan kepada mereka sebahagian dari (akibat) perbuatan mereka, agar mereka kembali (ke jalan yang benar).” (QS. Ar Ruum: 41).

Jika kita merujuk aspek kebahasaan, ad- din, bisa berarti tamadda-tamaddun- madinah. Peradaban kota. Maka secara sederhana, kepatuhan dan keaktifan beragama harus mampu mem-baikan prilaku manusia beriman di ruang publik. Secara filosofis, jika manusia masih mendefenisikan kepatuhan hukum pada hal yang utilitarian (kemanfaat) individu, maka selama itu pula manusia akan miskin dari kebaikan publik. Sebab energi yang muncul hanya berputar pada kepentingan pribadi saja.
Ketaatan Publik

Dikotomi yang besar terjadi manakala keimanan tidak menyentuh ruang sosial. Adaptasi ajaran agama tidak berhasil mendamaikan prilaku manusia antara ketaatan mahdhah-nya, dan ketataan publiknya. Maka jangan heran kalau kita masih menemukan ada orang yang tidak merasa berdosa (bersalah) jika dia membuang sampah di sungai, padahal dia adalah orang yang tidak meninggalkan shalat. Ada orang yang berjualan di trotoar, mencari rezeki yang halal tapi mengambil hak pejalan kaki, padahal dia orang yang gemar berpuasa.

Korelasi kuatnya ketika kita diingatkan dengan ayat Allah dalam Alquran Surah Al-ankabut;45) Sesungguhnya shalat itu mencegah dari (perbuatan-perbuatan) keji dan mungkar. Dan ketahuilah mengingat Allâh (shalat) adalah lebih besar (keutamaannya dari ibadah yang lain). Dan Allâh mengetahui apa yang kamu kerjakan. Shalat adalah symbol semua ibadah (ritual) dalam Islam. Harusnya memberi ruang sensitifitas yang tingga pada ketercegahan manusia dari perbuatan keji (kejahatan public) dan munkar (kejahatan teologik). Maka melihat outputnya bukan pada sisi tingginya ketaatan ritualistic saja, tapi bagaimana respon diri mampu ikut serta patuh pada aturan negara, aturan social, aturan kebaikan masyarakat bannyak. Sehingga ajaran Islam (agama) mewarnai kehidupan. Bukan hanya diruang kota, bahkan sampai gang kecil dan sempit di sudut kota.

Perintah Allah untuk taat kepadaNya, taat kepada Rasul dan taat kepada Ulil Amri, menjada daya dobrak yang bukan hanya symbol, tapi justru menjadi miniatur agama di ruang social. Sensitifitas ketaatan akan membentuk karakter taat, patuh aturan, menjaga lingkungan, menjaga peradaban, ikut berkontribusi membangun bangsa, dan nasionalisme akan terbentuk dengan sendirinya.

Di negara ini akan muncul orang-orang taat yang humanis, manusiawi, merasa memiliki negara ini sehingga peran mewujudkan bangsa yang baik tidak hanya kewajiban pemerintah, tapi menjadi jatidiri setiap warga negara. Kebaikan inilah menjadi idaman wujudnya ad din di ruang social. Tidak akan muncul stigma ketaatan menjadi biang melawan negara, dan peran aparat pemerintah-pun sinergis dengan tujuan agama. Sehingga semua orang memposisikan dirinya sebagai hamba "abid". Baik itu masyarakat maupun pemerintah.

Islam sebagai ajaaran agama secara akumulatif harus membuat manusia memiliki rasa malu (Al haya’) terhadap kejahatan dan pengrusakan manusia di muka bumi. Namun manusia suka bersandar pada ibadahnya, menyangka sudah cukuplah kebaikannya pada batas sajadah, pada batas dahaga dan lapar puasa, pada batas lisan dalam dzikir, padahal semua ibadah itu harus berkontribusi pada kebaikannya.

Inilah tantangan besar kenapa agama harus dijadikan landasan untuk berbuat baik. Kebaikan itu sangat diperlukan di era modern ini agar ajaran agama membekas di tengah kehidupan. Dan berpuasa akan menjadi lahan awal membentuk semua karakter tersebut. Wallahu a’lam


9. HUKUM MEMBACA QUNUT NAZILAH DALAM SHOLAT BERJAMAAH SECARA TERUS MENERUS

PERTANYAAN:

Dalam masa Qovid 19 ini salah satu anjuran MUI adalah membaca Qunut Nazilah secara terus menerus, dalam sholat lima waktu dan juga shulat Jumat, bagaimanakah hukumnya. (Indra Karlo Sinaga - Medan Denai)


JAWABAN:

Salah satu tuntunan Allah melalui Alquran kepada kita untuk berdoa, berharap dan meminta, agar semua yang terjadi tidak meruntuhkan keimanan, termasuk meminta agar dikeluarkan dari ujian dan cobaan yang merusak keimanan. Berkaitan dengan Qunut nazilah dianjurkan pada shalat fardu lima waktu, dan semua shalat sunat yang disyariatkan berjamaah, jika terjadi suatu peristiwa yang membahayakan umat Islam seperti Wabah Covid-19, hal ini juga berlaku sekalipun tidak pada daerah terjadinya wabah.

Beberapa dalil yang bias dijadikan rujukan adalah Pendapat Muhammad Bakri Ismail dalam al-Fiqh al-Wadhih min al-Kitab wa as-Sunnah ala al- Mazahib al-Arba’ah, jilid I, hlm 194 : Qunut: Hukumnya sunnah menurut mazhab as-Syafi’i pada shalat subuh selamanya, dan pada shalat witir pada malam pertengahan terakhir bulan Ramadan, dan pada semua shalat-shalat ketika terjadi bala”.

Pendapat Imam an-Nawawi dalam al-Majmu’ Syarh al-Muhazzab, juz II, hlm. 505 : “Qunut pada selain shalat subuh jika terjadi suatu peristiwa : telah kami jelaskan terdahulu bahwa pendapat yang sahih dalam mazhab kami (mazhab as-Syafii), adalah jika terjadi suatu peristiwa,dilaksanakan qunut pada semua shalat.

Pendapat Syihabuddin al-Qalyubi dan Ahmad Barlisi Umairah, dalam Hasyiyah al-Qalyubi wa Umairah, juz II, hlm. 337 : “Dan disyariatkan qunut atau disunahkan pada semua shalat fardu artinya karena ada peristiwa seperti wabah dan kekeringan… dan imam men-jahar-kan (mengeraskan suara) baik pada shalat sirriyah (shalat yang bacaannya pelan) dan jahriyah (shalat yang bacaannya dengan mengeraskan suara). Dan semua jawaban ini juga sesuai dengan tanggapan Komisi Fatwa MUI Sumut Nomor 07/DP-PII/TS/IV/2020. Wallahu a’lam


10. FALSAFAH MUSIBAH

PERTANYAAN:

Assalamualaikum, di tengah suasana Covid 19 ini semua orang khawatir dan meyakini ini musibah yang dating dari Allah, apa sikap yang bias kita jadikan patokan berfikir danbersikap menghadapinya ya, terimakasih ustaz (Zulfikar - Medan Maimun)


JAWABAN:

Tidak ada suatu musibah pun yang menimpa seseorang kecuali dengan ijin Allah; dan barangsiapa yang beriman kepada Allah niscaya Dia akan memberi petunjuk kepada hatinya. Dan Allah Maha Mengetahui segala sesuatu. ( QS. At Tagabun;11)

Semua manusia dalam keadaan yang sangat bingung, menentukan sikap keduniaan atau ketauhidan. Meskipun terasa sempit jika kita menempatkannya pada ruang dikotomik, tapi di tengah masyarakat dikotomi itu bermain sangat tajam. Sehingga ada kesan orang pasrah sama dengan orang yang “ketakutan”. Sebagai manusia yang ber- akal. Maka kita harapkan hikmah dari Allah untuk menjernihkan hasil fikir, melihat proses, membaca takdir dan menentukan sikap tanpa berbenturan satu sama lain. Ruang ikhtiyar (usaha) tidak boleh di”beda-arahkan” dengan ke-tawakkalan. Duanya harus simbiosis ikhtiyar itu bagian dari tawakkal, dan tawakkal itu ikhtiyarnya orang beriman.

Pertama musibah, tentu kita akan mencoba membedakan maksud musibah, ujian dan cobaan. Musibah berarti sesuatu menakutkan dan mengkhawatirkan yang terjadi kepada sekelompok orang, bisa juga negeri atau bumi ini dalam bentuk bencana, wabah, penyakit dan semacamnya. Jika kita mencari sebab, maka dua pendekatannya, satu saatnya terjadi, dua peringatan akan kelalaian, dosa dan kealpaan berdakwah.

Kedua, semua musibah tidak akan terjadi kecuali dengan izin Allah, kalau seseorang siswa permisi tidak masuk kelas sebab ada urusan keluarga, maka gurunya akan mengizinkannya, .dia diizinkan atas aktivitas di luar kebiasaan. Keizinan itu akan sangat erat dengan output yang didapat, bias nilai, bias kehilangan keterangan dari guru, tinggal tugas dan sejenisnya, tapi sebab sudah diizinkan, maka semua tidak akan menjadi masalah secara formal. Maka, meminjam analogi tersebut. Berarti musibah tersebut sudah minta izin untuk hadir di bumi, menjadi ketakutan manusia, dan atas keberimanan manusia, dia akan tenang, bersabar (hatinya telah diberi petunjuk) sehingga tenang daan sabar itu justru menjadi obat mujarab bagi dirinya. Allah izinkan musibah berkeliaran di tengah kerumunan manusia. Dia menyerang rasa takut, khawatir akan kematian, dia menyerang orang orang yang tipis iman, atau bahkan dia menyerang orang orang yang lupa Akan Tuhannya. Maka musibah akan menjadi musibah bagi orang yang takut, dan musibah bias menjadi hikmah pada orang yang mencari petunjuk.

Ketiga, orang orang yang beriman, hatinya akan diberi petunjuk oleh Allah. Kenapa hati, karena hati yang memiliki daya serap immateri. Hati keluar dari paham (Alhukmu bidz-dzawaahir), yang bias diberikan hukum itu adalah yang kelihatan (paham materialistic). Hati, memiliki daya sensitifitas yang tinggi mengenali siapa yang menyayanginya, siapa yang melidunginya, sehingga kesabaran yang dipakai sebagai alat bantu melewati musibah tidak dianggap senjata tumpul, justru sabar dan tenang menjadi senjati yang memiliki daya magnet yang tinggi menguatkan imunitas lahir dan bathin terhindar dari serangan musibah tersebut. Sering serangan itu justru menguatnya rasa takut pada kematian, bukan pada Sang Maha Pemberi Kematian, rasa takut itu yang menyerang imunitas keimanan, imunitas fisik, imunitas percaya diri. Maka petunjuk melalui hati orang-orang berimah itu bias dalam bentuk hikmah, bentuk hidayah, atau petunjuk lain yang sangat eksklusif sehingga musibah terasa bermanfaat membangun kembali jaringan keimanan yang sudah terputus.

Keimanan secara vertical kepada Allah yang memudar seiring takutnya manusia dengan kekurangan harta, kekurangan eksistensi diri, takut akan kematian sehingga kesabaran menjadi air penyejuk di tengah kekeringan dan kedahaga-an. “Dan Kami pasti akan menguji kamu dengan sedikit ketakutan, kelaparan, kekurangan harta, jiwa, dan buah-buahan. Dan sampaikanlah kabar gembira kepada orang-orang yang sabar." (QS.AlBaqarah:155)-- Wallahu a’lam.

Editor: Aziz AR Panjaitan

Sumber: Kiriman Tulisan dari Dr. H. M. Syukri Albani Nasution, M.A -- (Ilustrasi Gambar: net)

T#gs
Berita Terkait
FB Comments